chat


ShoutMix chat widget

Pilih Musik Yang Anda Sukai

Menurut Anda siapa yang akan terpilih menjadi Presiden RI pada PEMILU di Tahun 2009 ini?


I made this widget at MyFlashFetish.com.

technorati

Senin, 09 Februari 2009

Pentingnya Sikat Gigi Malam Hari

Pentingnya Sikat Gigi Malam Hari
oleh : Dokter Handrawan Nadesul


Kualitas gigi seseorang ditentukan benih gigi dan bagaimana gigi-geligi dirawat sejak awal kali tumbuh. Benih gigi dipengaruhi oleh nutrisi ibu selama anak dalam kandungan. Perawatan gigi anak juga tergantung bagaimana ibu membantu merawatnya. Bagaimana perawatan gigi balita perlu dilakukan?

GIGI anak berjumlah duapuluh. Gigi dewasa tigapuluhdua. Saat lahir, dalam rahang bayi terdapat 44 buah gigi yang tengah dibentuk. Duapuluh gigi susu, duapuluh gigi dewasa, dan empat kantung gigi geraham dewasa. Duapuluh akan keluar sebagai gigi susu (primary dentition). Rata-rata gigi pertama akan keluar (erupsi) pada umur 7 bulan yang muncul sebagai gigi seri bawah.

Anak perempuan dan bayi yang diberi ASI lebih cepat erupsi dibanding anak laki-laki, atau yang bukan diberi ASI. Erupsi gigi juga tergantung etnis, dan bersifat individual pula. Misal, anak yang mengalami gangguan tulang, atau anak dengan keterbelakang mental, erupsi gigi susunya umumnya terlambat.

Selang beberapa bulan setelah gigi susu pertama disusul gigi seri atas, gigi seri bawah pada umur setahun, gigi geraham pertama pada umur 14 bulan, selanjutnya gigi geraham kedua setelah berumur 2 tahun. Gigi susu sudah lengkap keluar setelah anak berumur 2 tahun.

Gigi susu perlu dipertahankan sampai gigi tetap keluar
Umur gigi susu sekitar 6-10 tahun saja. Pada saat anak berumur 6 tahun, gigi susu pertama sudah tanggal dan digantikan oleh gigi tetap (permanent dentition). Gigi tetap pertama, yakni prageraham pertama. Menyusul gigi seri, prageraham kedua, taring, dan geraham kedua pada umur 12 tahun. Terakhir geraham bungsu baru erupsi antara umur 18-25 tahun.

Masing-masing gigi susu ada umurnya. Gigi susu sebaiknya tanggal secara alami. Bila tanggal sebelum umurnya, akan menyesatkan keluarnya gigi tetap. Susunan gigi tetap yang tidak seteratur gigi susu apabila gigi susu sudah tanggal sebelum umurnya.

Gigi susu yang membukakan jalan bagi keluarnya gigi tetap. Bila gigi susu sudah tak ada, sementara gigi tetap belum cukup matang untuk keluar, maka arah keluarnya tidak mengikuti jalan gigi susu. Maka posisi gigi tetapnya tak tentu arah. Setelah dewasa susunan gigi-geligi anak menjadi mirip ban radial.

Agar gigi susu tanggal pada umurnya, gigi harus dirawat. Karena lapisan luar (enamel) gigi susu tidak sekuat gigi tetap, gigi susu lebih gampang keropos. Pengeroposan gigi biasanya terjadi oleh proses mikrobiologis dan kimiawi.

Sisa makanan berkarbohidrat (nasi roti, ubi, ketela, kentang) dan yang serba manis, bila terselip pada permukaan gigi akan terjadi proses fermentasi. Bersama dengan kuman di rongga mulut, membentuk zat asam. Zat asam lactat ini yang akan menghancurkan lapisan luar gigi membentuk caries, atau gigi bolong.

Diseka kapas, berkumur, dan sikat gigi
Maka di permukaan gigi tidak boleh ada sisa makanan. Khususnya yang berkarbohidrat, seperti biskuit, cokelat, permen, kue, es krim, dan sejenisnya. Membiarkan sisa makanan berarti gagal mencegah pengeroposan gigi. Gigi yang keropos dan tidak dirawat, akan hancur, tanggal, lalu berakhir sebagai sisa akar.

Bayi belum mampu berkumur, apalagi menyikat gigi sendiri. Maka selama masa bayi, ibu sendiri yang membantu menyeka permukaan gigi anak dengan kapas basah steril. Setiap kali selesai makan dan minum, biasakan menyeka gigi. Kesehatan gigi balita ditentukan oleh perawatan gigi semenjak usia bayi.

Setelah anak mampu berkumur, biasakan mengajaknya berkumur-kumur setiap kali selesai makan dan minum. Ajarkan pula menyikat gigi. Mungkin belum sempurna. Ibu perlu membimbingnya menyikat gigi yang benar.

Pada usia balita rata-rata anak sudah mahir menyikat gigi sendiri. Biasakan paling kurang dua kali sehari. Pagi hari sehabis sarapan, dan malam hari sebelum tidur. Siang hari, dan setiap kali selesai makan, sekurang-kurangnya berkumur-kumur.

Menyikat gigi malam hari sesungguhnya jauh lebih penting ketimbang pagi hari. Mengapa? Oleh karena selama tidur malam hari mulut terkatup. Selama mulut terkatup, bila ada sisa makanan pada permukaan gigi, ia akan bertahan lebih lama menetap di situ. Sedang selama siang hari, anak masih melakukan kegiatan makan dan minum, sehingga bila ada sisa makanan yang terselip di permukaan gigi akan terhanyut terbawa oleh makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Anak yang tidak menyikat gigi malam hari risiko pengeroposan giginya lebih besar. Gigi keropos dan dibiarkan tanpa perawatan menimbulkan warna hitam pada permukaan gigi. Lama-kelamaan terjadi pembusukan gigi. Lalu infeksi akar gigi, infeksi gusi, dan gusi membengkak. Selanjutnya gigi akan hancur, rusak sebelum waktunya.

Untuk menyehatkan gigi balita, biasakan menggigit apel, jambu, bengkuang, timun, dan sejenisnya. Selain melatih kekerasan gigi, dengan menggigit buah keras, permukaan gigi dibersihkan. Demikian pula yang diperoleh selama mengunyahnya.

Segera ditambal bila mulai bolong
Gigi susu yang sudah mulai keropos perlu dirawat, sebelum telanjur bolong. Untuk itu perlu penambalan. Adakalanya, sekalipun sudah teratur menyikat gigi, bila benih giginya kurang bagus, gigi masih bisa keropos juga (decalcification).

Dengan melakukan penambalan gigi susu, gigi diharapkan masih mampu bertahan sampai umurnya. Dengan demikian, ia akan menunggu sampai saatnya gigi tetapnya mulai keluar.

Pemberian ekstra kalsium saja hanya bermanfaat semasa gigi belum keluar. Pembentukan benih gigi membutuhkan kalsium. Percuma apabila gigi sudah erupsi. Bila diduga kualitas gigi kurang bagus, perlu diberikan ekstra fluor. Fluor bisa terkandung dalam air minum (leding) dan pasta gigi. Atau berupa pengolesan fluor pada permukaan gigi setiap enam bulan sekali.

Menyikat gigi yang benar pada anak harus dibentuk. Jika sudah keliru sejak awal, selanjutnya akan terbentuk cara menyikat yang tidak benar. Prinsipnya seluruh permukaan gigi tidak ada yang terluput dari penyikatan.

Sering-sering bagian-bagian permukaan gigi yang sulit tersentuh, atau sukar dijangkau, lokasi gigi yang sering terancam keropos. Maka upayakan bukan sekadar menyikat gigi belaka. Terlebih ihwal menyikat gigi malam hari. Karena sepanjang malam hari inilah proses hebat pengrusakan gigi yang paling kerap terjadi.

sumber: SahabatNestle

PERTUMBUHAN GIGI GELIGI

PERTUMBUHAN GIGI GELIGI
Maret 23, 2007 oleh Evy

Pertumbuhan dan perkembangan dari gigi geligi seperti halnya organ lainnya telah dimulai sejak 4 – 5 bulan dalam kandungan. Pada waktu lahir, maksila (Rahang atas) dan mandibula (Rahang Bawah) merupakan tulang yang telah dipenuhi oleh benih-benih gigi dalam berbagai tingkat perkembangan. Tulang alveolar hanya dilapisi oleh mucoperiosteum yang merupakan bantalan dari gusi.


Pada saat lahir, tulang maksila dan mandibula terlihat mahkota gigi-gigi sulung telah terbentuk dan mengalami kalsifikasi, sedangkan benih gigi-gigi tetap masih berupa tonjolan epitel. Pada umur 6 – 7 bulan telah terjadi erupsi gigi insisif pertama pada rahang bawah. Pada umur 2 ½ - 3 tahun semua gigi sulung telah erupsi dan email gigi-gigi sulung telah terbentuk sempuna.

Ternyata gigi tumbuh pake di jadwalin juga ya? Kenapa ga sekaligus aja? Itulah hebatnya Sang Pencipta, manusia sudah diprogram dan disiapkan sedemikian rupa sesuai dengan kesiapan alat pencernaan lainnya untuk menerima makanan padat. Bayangin kalau tumbuh sekaligus masih bayi, khan bisa babak belur to nenen-nya, lha kegigit dua aja udah pringisan, mau mencet hidung bayi supaya buka mulut ga tega lagi enak2nya nyusu…

Pertumbuhan dan perkembangan gigi ini terlihat pada tabel berikut ini :

GIGI SULUNG


Rahang Gigi Pembentukan Erupsi Akar lengkap

Atas Insisif pertama 4 bl inutero 7 ½ bl 1 ½ th
Insisif kedua 4 ½ bl inutero 9 bl 2 th
Caninus 5 bl inutero 18 bl 3 ½ th
Molar pertama 5 bl inutero 14 bl 2 ½ th
Molar kedua 6 bl inutero 24 bl 3 th
Bawah Insisif pertama 4 ½ bl inutero 7 bl 1 ½ th
Insisif kedua 4 ½ bl inutero 7 bl 1 ½ th
Caninus 5 bl inutero 16 bl 3 ½ th
Molar pertama 3 bl inutero 12 bl 2 ½ th
Molar kedua 6 bl inutero 20 bl 3 th

GIGI TETAP


Rahang Gigi Mulai terbentuk Erupsi Akar lengkap

Atas Insisif pertama 3 - 4 bl 7 – 8 th 10 tahun
Insisif kedua 10 - 12 bl 8 – 9 th 11 tahun
Caninus 4 – 5 bl 11 – 12 th 13 – 15 th
Premolar pertama 18-21 bl 10 – 12 th 12 – 14 th
Premolar kedua 30–33 bl 10 – 12 th 12 –14 th
Molar pertama 0 – 3 bl 6 – 7 th 9 – 10 th
Molar kedua 27 – 36 bl 12 – 13 th 14 – 16 th
Molar ketig 7 – 9 th 17 – 21 th 18 – 25 th
Bawah Insisif pertama 3 – 4 bl 6 – 7 th 9 th
Insisif kedua 3 – 4 bl 7 – 8 th 10 th
Caninus 4 – 6 bl 9 – 10 th 12 – 14 th
Premolar pertama 18 – 24 bl 10 – 12 th 12 –13 th
Premolar kedua 24 – 30 bl 11 – 12 th 13 – 14 th
Molar pertam 0 – 3 bl 6 – 7 th 9 – 10 th
Molar kedua 2 – 3 th 11 – 13 th 14 – 15 th
Molar ketiga 8 – 10 th 17 – 21 th 18 – 25 th

Hayyooo sekarang di periksa udah pada lengkap semua belum gigi-nya, kalau belum perlu diragukan kejantanannya kedewasaannya hehehehe…

PERTUMBUHAN GIGI GELIGI

PERTUMBUHAN GIGI GELIGI
Maret 23, 2007 oleh Evy

Pertumbuhan dan perkembangan dari gigi geligi seperti halnya organ lainnya telah dimulai sejak 4 – 5 bulan dalam kandungan. Pada waktu lahir, maksila (Rahang atas) dan mandibula (Rahang Bawah) merupakan tulang yang telah dipenuhi oleh benih-benih gigi dalam berbagai tingkat perkembangan. Tulang alveolar hanya dilapisi oleh mucoperiosteum yang merupakan bantalan dari gusi.


Pada saat lahir, tulang maksila dan mandibula terlihat mahkota gigi-gigi sulung telah terbentuk dan mengalami kalsifikasi, sedangkan benih gigi-gigi tetap masih berupa tonjolan epitel. Pada umur 6 – 7 bulan telah terjadi erupsi gigi insisif pertama pada rahang bawah. Pada umur 2 ½ - 3 tahun semua gigi sulung telah erupsi dan email gigi-gigi sulung telah terbentuk sempuna.

Ternyata gigi tumbuh pake di jadwalin juga ya? Kenapa ga sekaligus aja? Itulah hebatnya Sang Pencipta, manusia sudah diprogram dan disiapkan sedemikian rupa sesuai dengan kesiapan alat pencernaan lainnya untuk menerima makanan padat. Bayangin kalau tumbuh sekaligus masih bayi, khan bisa babak belur to nenen-nya, lha kegigit dua aja udah pringisan, mau mencet hidung bayi supaya buka mulut ga tega lagi enak2nya nyusu…

Pertumbuhan dan perkembangan gigi ini terlihat pada tabel berikut ini :

GIGI SULUNG


Rahang Gigi Pembentukan Erupsi Akar lengkap

Atas Insisif pertama 4 bl inutero 7 ½ bl 1 ½ th
Insisif kedua 4 ½ bl inutero 9 bl 2 th
Caninus 5 bl inutero 18 bl 3 ½ th
Molar pertama 5 bl inutero 14 bl 2 ½ th
Molar kedua 6 bl inutero 24 bl 3 th
Bawah Insisif pertama 4 ½ bl inutero 7 bl 1 ½ th
Insisif kedua 4 ½ bl inutero 7 bl 1 ½ th
Caninus 5 bl inutero 16 bl 3 ½ th
Molar pertama 3 bl inutero 12 bl 2 ½ th
Molar kedua 6 bl inutero 20 bl 3 th

GIGI TETAP


Rahang Gigi Mulai terbentuk Erupsi Akar lengkap

Atas Insisif pertama 3 - 4 bl 7 – 8 th 10 tahun
Insisif kedua 10 - 12 bl 8 – 9 th 11 tahun
Caninus 4 – 5 bl 11 – 12 th 13 – 15 th
Premolar pertama 18-21 bl 10 – 12 th 12 – 14 th
Premolar kedua 30–33 bl 10 – 12 th 12 –14 th
Molar pertama 0 – 3 bl 6 – 7 th 9 – 10 th
Molar kedua 27 – 36 bl 12 – 13 th 14 – 16 th
Molar ketig 7 – 9 th 17 – 21 th 18 – 25 th
Bawah Insisif pertama 3 – 4 bl 6 – 7 th 9 th
Insisif kedua 3 – 4 bl 7 – 8 th 10 th
Caninus 4 – 6 bl 9 – 10 th 12 – 14 th
Premolar pertama 18 – 24 bl 10 – 12 th 12 –13 th
Premolar kedua 24 – 30 bl 11 – 12 th 13 – 14 th
Molar pertam 0 – 3 bl 6 – 7 th 9 – 10 th
Molar kedua 2 – 3 th 11 – 13 th 14 – 15 th
Molar ketiga 8 – 10 th 17 – 21 th 18 – 25 th

Hayyooo sekarang di periksa udah pada lengkap semua belum gigi-nya, kalau belum perlu diragukan kejantanannya kedewasaannya hehehehe…

tumor gigi

Jenis-jenis Tumor Mulut


Pembengkakan yang terjadi dalam mulut yang bukan disebabkan oleh infeksi disebut tumor.


Tumor terbagi dua macam yaitu :


1. Tumor Jinak

Tumor ini tiam menjalar (metastase) hanya membesar pada tempat yang tumbuh saja. Tumor jinak ini terdiri dari:

Papiloma, dapat terjadi pada gusi,langit-langit ,lidah , dasar mulut, dan bibir. Bentuknua agak bulat dengan ukuran 2 sampai 5 mm. Papiloma ini lebih keras dari jaringan sekitarnya.

Ameloblastoma. Tumor ini berasal dari benih gigi pembentuk email yang berkembang liar. Umumnya orang terkena penyakit ini pada umur 30 tahun. Terjadinya tulang rahang.

Lipoma. Bisa tetjadi pada daerah mulut yang banyak lemaknya seperti pada bagian pipi dan dasar mulut.

Fiboma, bisa terjadi bibir, lidah, langit-langit dan gusi. Jaringan pembungkusnya lebih pucat dari sekelilingnya dan lebih keras.

Odontoma. Disini benih-benih gigi membentuk gigi -gigi kecil yang banyak terkumpul dalam satu kantung yang dindingnya terdiri dari jaringan ikat. Kantung terus membesar dengan bertambah banyaknya gigi kecil ini.


2. Tumor Ganas

Tumor bisa menjalar ke tempat lain misalnya, dari lidah bisa menjalar ke paru-paru. Walaupun sudah di buang dengan operasi, tumor ini dapat kambung kembali.


Contohn-contohnya:

Epithelioma, Tumor ini terjadi di mulut, umumnya menyerang bibir, tetapi sering juga mengenai lidah, dasar mulut, langit-langit , selaput pada pipi dan rahang. Paling banyak dijumpai pada bibir sebelah bawah dari orang yang sudah berumur lanjut. Tumor bisa menjalar ke tempat lain seperti kelenjar limfe pada rahang.


Kanker pada lidah.

Pasien penderita tumor ini biasanya mengatakan bahwa asal penyakitnya adalah karena lidahnya tergigit , tapi sebenarnya benjolan kanker tersebutlah yang mengakibatkan lidahnya tergigit. Kanker inipun cepat menyebar ke tempat lain. Disamping ke dua jenis tumor di atas dijumpai lagi pembengkakan yang besarnya sampai batas tertentu saja yang disebut tumor like.

Contohnya, Eksostosis (Tonjolan keluar dari tulang). Terjadi akibat beban yang berat dari gigi sehingga menimbulkan pertumbuhan tulang yang menonjolkan ke arah luar. (**)



< Pembengkakan yang terjadi dalam mulut yang bukan disebabkan oleh infeksi disebut tumor.


Tumor terbagi dua macam yaitu :


1. Tumor Jinak

Tumor ini tiam menjalar (metastase) hanya membesar pada tempat yang tumbuh saja. Tumor jinak ini terdiri dari:

Papiloma, dapat terjadi pada gusi,langit-langit ,lidah , dasar mulut, dan bibir. Bentuknua agak bulat dengan ukuran 2 sampai 5 mm. Papiloma ini lebih keras dari jaringan sekitarnya.

Ameloblastoma. Tumor ini berasal dari benih gigi pembentuk email yang berkembang liar. Umumnya orang terkena penyakit ini pada umur 30 tahun. Terjadinya tulang rahang.

Lipoma. Bisa tetjadi pada daerah mulut yang banyak lemaknya seperti pada bagian pipi dan dasar mulut.

Fiboma, bisa terjadi bibir, lidah, langit-langit dan gusi. Jaringan pembungkusnya lebih pucat dari sekelilingnya dan lebih keras.

Odontoma. Disini benih-benih gigi membentuk gigi -gigi kecil yang banyak terkumpul dalam satu kantung yang dindingnya terdiri dari jaringan ikat. Kantung terus membesar dengan bertambah banyaknya gigi kecil ini.


2. Tumor Ganas

Tumor bisa menjalar ke tempat lain misalnya, dari lidah bisa menjalar ke paru-paru. Walaupun sudah di buang dengan operasi, tumor ini dapat kambung kembali.


Contohn-contohnya:

Epithelioma, Tumor ini terjadi di mulut, umumnya menyerang bibir, tetapi sering juga mengenai lidah, dasar mulut, langit-langit , selaput pada pipi dan rahang. Paling banyak dijumpai pada bibir sebelah bawah dari orang yang sudah berumur lanjut. Tumor bisa menjalar ke tempat lain seperti kelenjar limfe pada rahang.


Kanker pada lidah.

Pasien penderita tumor ini biasanya mengatakan bahwa asal penyakitnya adalah karena lidahnya tergigit , tapi sebenarnya benjolan kanker tersebutlah yang mengakibatkan lidahnya tergigit. Kanker inipun cepat menyebar ke tempat lain. Disamping ke dua jenis tumor di atas dijumpai lagi pembengkakan yang besarnya sampai batas tertentu saja yang disebut tumor like.

Contohnya, Eksostosis (Tonjolan keluar dari tulang). Terjadi akibat beban yang berat dari gigi sehingga menimbulkan pertumbuhan tulang yang menonjolkan ke arah luar. (**)

benih gigi

Anodontia


ANODONTIA, HYPODONTIA, OLIGODONTIA

Defenisi
Anodontia adalah suatu keadaan di mana semua benih gigi tidak terbentuk sama sekali, dan merupakan suatu kelainan yang sangat jarang terjadi. Anodontia dapat terjadi hanya pada periode gigi tetap/permanen, walaupun semua gigi sulung terbentuk dalam jumlah yang lengkap.
Sedangkan bila yang tidak terbentuk hanya beberapa gigi saja, keadaan tersebut disebut hypodontia atau oligodontia.


Gambar 1. Anodontia

Penyebab
Anodontia dan hypodontia kadang ditemukan sebagai bagian dari suatu sindroma, yaitu kelainan yang disertai dengan berbagai gejala yang timbul secara bersamaan, misalnya pada sindroma Ectodermal dysplasia. Hypodontia dapat timbul pada seseorang tanpa ada riwayat kelainan pada generasi keluarga sebelumnya, tapi bisa juga merupakan kelainan yang diturunkan.

Gejala
Anodontia ditandai dengan tidak terbentuknya semua gigi, dan lebih sering mengenai gigi-gigi tetap dibandingkan gigi-gigi sulung. Pada hypodontia, gigi-gigi yang paling sering tidak terbentuk adalah gigi premolar dua rahang bawah, insisif dua rahang atas, dan premolar dua rahang atas. Kelainan ini dapat terjadi hanya pada satu sisi rahang atau keduanya.


Gambar 2. Hampir seluruh gigi tidak terbentuk



Gambar 3. Hypodontia

Pemeriksaan
Diagnosa anodontia biasanya membutuhkan pemeriksaan radiografik untuk memastikan memang semua benih gigi benar-benar tidak terbentuk. Pada kasus hypodontia, pemeriksaan radiografik panoramik berguna untuk melihat benih gigi mana saja yang tidak terbentuk.

Perawatan
Lakukan konsultasi dengan dokter gigi sedini mungkin bila terdapat kecurigaan terjadinya kelainan ini. Perawatan yang biasanya diberikan oleh dokter gigi adalah pembuatan gigi tiruan.

Jumat, 16 Januari 2009

Karang gigi

KARANG GIGI



Hiiiiiiiy !




Karang gigi itu apa sih...?

Karang gigi (Calculus) merupakan kumpulan plak termineralisasi ( pembentukan mineral seperti "batukarang" ) yang menempel pada permukaan gigi.

Berdasarkan lokasinya, karang gigi ada di supragingiva (permukaan gigi diatas gusi) dan di subgingiva (permukaan gigi di bawah gusi).

Karang gigi terutama timbul pada daerah-daerah gigi yang sulit dibersihkan.

Akibat dari adanya karang gigi adalah......

Karang gigi ini menjadi tempat melekatnya kuman-kuman di dalam mulut.

Akibatnya dapat menyebabkan berbagai penyakit gusi, seperti radang gusi (gingivitis) yang ditandai dengan gusi tampak lebih merah, agak membengkak, dan sering berdarah saat menggosok gigi. Lihat gambar dibawah ini contoh gambaran dari Gingivitis.

Hal ini dapat berlanjut menjadi radang jaringan penyangga gigi lainnya (periodontitis) bila tidak segera dirawat. Bila sudah tahap ini dapat menimbulkan gigi goyang karena jaringan penyangga gigi sudah rusak. Lihat gambar dibawah ini contoh gambaran Periodontiti.



Juga yang tidak kalah sering terjadi, karang gigi dapat menyebabkan bau mulut tidak enak. Hal ini yang dirasa paling mengganggu.

Cara mengurangi timbulnya karang gigi adalah....

Terbentuknya karang gigi dapat pada semua orang, dan proses terbentuknya tidak dapat kita hindari namun dapat kita kurangi. Cara untuk mengurangi terbentuknya karang gigi adalah :

Pertama adalah dengan rajin menjaga kebersihan gigi, yaitu dengan menyikat gigi minimal dua kali sehari secara benar dimana semua bagian-bagian gigi tersikat bersih. Juga jangan lupa untuk menggosok gusi dengan lembut perlahan-lahan. Untuk gusi rahang atas, gerakan sikat gigi dari atas ke bawah, dan untuk gusi rahang bawah gerakan sikat gigi dari bawah ke atas. Hal ini dapat menghalangi terbentuknya karang gigi. (lihat 'Tips Menggosok gigi' )

Kedua adalah rajin kontrol ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali untuk membersihkan karang gigi. Karena hanya dengan alat-alat kedokteran gigi saja karang gigi dapat dibersihkan.

Karang gigi tidak dapat hilang bila hanya dengan menggosok gigi atau berkumur dengan obat kumur.

Dokter gigi memiliki alat khusus untuk membersihkan karang gigi anda.

Rabu, 07 Januari 2009

Amandel

Amandel
Posted on Thursday, July 24, 2008 comments (11)
Labels: Dunia Medis Kita

Terima kasi sebelumnya untuk masukan rekan-rekan yang masih berkenan untuk membangun kesehatan gigi menjadi lebih baik. Mohon maaf sebesar-besarnya baru bisa posting. Kali ini saya akan membahas mengenai Amandel. Semoga bisa bermanfaat untuk kita semua. Beberapa pertanyaan yang ada dibenak kita seberapa bahaya penyakit ini? Sebenarnya amandel sendiri memang selalu ada pada setiap tubuh manusia, disini kita menyadari betapa menakjubkannya sistem tubuh manusia. Amandel sendiri merupakan salah satu sistem proteksi tubuh.


Amandel atau tonsil merupakan kumpulan jaringan limfoid yang terletak pada kerongkongan di belakang kedua ujung lipatan belakang mulut. Amandel sendiri berfungsi mencegah agar infeksi tidak menyebar ke seluruh tubuh dengan cara menahan kuman memasuki tubuh. Oleh karena itu kelenjar amndel ini meradang. Peradangan pada Kelenjar amandel ini disebut dengan tonsilitis, penyakit ini merupakan salah satu gangguan THT (Telinga Hidung & Tenggorokan). Tonsilitis dapat bersifat akut atau kronis. Bentuk akut yang tidak parah biasanya berlangsung sekitar 4-6 hari, dan umumnya menyerang anak-anak pada usia 5-10 tahun. Sedangkan radang amandel/tonsil yang kronis terjadi secara berulang-ulang dan berlangsung lama.

Pada radang amandel yang akut biasanya dimulai dengan gejala sakit tenggorokan yang ringan hingga menjadi parah, sakit saat menelan makanan, kadang-kadang muntah. Tonsilitis dapat menyebabkan amandel menjadi bengkak, panas, gatal, sakit pada otot dan sendi, nyeri pada seluruh badan, kedinginan, sakit kepala, dan sakit pada telinga. Kelenjar getah bening melemah di dalam daerah submandibuler. Bagian belakang tenggorokan akan terasa mengerut sehingga sukar menelan. Peradangan tonsil yang akut ataupun pembengkakan tonsil yang tidak terlalu besar dan tidak menghalangi jalan pernapasan, serta tidak menimbulkan komplikasi tidak perlu dilakukan pembedahan/operasi, karena tonsil yang terbuat dari jaringan getah bening dapat berfungsi mencegah tubuh agar tidak terkena penyakit yang berhubungan dengan infeksi.

Beberapa upaya yang dapat kita lakukan sendiri dirumah untuk pencegahan, perawatan dan pengobatannya dilakukan beberapa langkah sebagai berikut :

* Diusahakan untuk minum banyak air atau cairan seperti sari buah, terutama selama demam.
* Jangan minum es, sirop, es krim, makanan dan minuman yang didinginkan, gorengan, makanan awetan yang diasinkan, dan manisan.
* Berkumur air garam hangat 3-4 kali sehari.
* Menaruh kompres hangat pada leher setiap hari.
* diberikan terapi antibiotik (atas petunjuk dokter) apabila ada infeksi bakteri dan untuk mencegah komplikasi.
* Istirahat yang cukup.

Namun apabila radang amandel kronis dengan pembengkakan tonsil yang terlalu besar sehingga mengakibatkan terganggunya jalan pernapasan, atau munculnya komplikasi, biasanya diperlukan pembedahan/operasi untuk mengeluarkan tonsil. Apabila terjadi peradangan yang kronis disarankan untuk berkonsultasi kedokter spesialis THT untuk penanganan dan tidakan selanjutnya.

Mudah-mudahan bisa sedikit membantu :) Senang rasanya bisa ngeblog lagi :) sekali lagi saya minta maaf.

Selasa, 23 Desember 2008

Kesehatan Gigi dan Mulut

Kesehatan Gigi dan Mulut



Kelainan atau penyakit rongga mulut dan gigi merupakan salah satu dari 10 penyakit terbanyak di Puskesmas. Hampir sekitar 60% masyarakat Indonesia pernah mengalami gangguan pada gigi. Pada tahun 1980, ditemukan bahwa hampir 90% anak sekolah mempunyai kelainan gigi atau rongga mulut. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan gigi dan rongga mulut perlu mendapatkan perhatian khusus.


Jaringan Rongga Mulut

Dalam rongga mulut, terdapat beberapa jaringan yang dibagi dalam 2 kelompok, yaitu :

Jaringan Keras (rahang atas, rahang bawah, dan gigi).
Jaringan Lunak (gusi, lidah, mukosa pipi, mukosa bibir, mukosa lidah, mukosa palatum, dan jaringan dasar lidah).

Fungsi Gigi

Secara histologis, jaringan gigi dan mulut berasal dari mesoderm dan ektoderm, yang memiliki 3 fungsi utama yaitu, pengunyahan (mastikasi), keindahan (estetika), dan berbicara (phonetic). Dalam mulut, gigi tertanam dalam tulang rahang dan dilindungi oleh gusi (gingiva), dengan bentuk yang berbeda – beda sesuai dengan fungsinya.


Gigi Seri (Incisivus)

Gigi ini letaknya berada di depan, dan berfungsi untuk memotong makanan (mastikasi). Jumlahnya ada 8, dengan pembagian 4 berada di rahang atas dan 4 berada di rahang bawah. Gigi seri susu mulai tumbuh pada bayi usia 4 – 6 bulan, kemudian diganti dengan gigi seri permanen pada usia 5 – 6 tahun pada rahang bawah dan pada usia 7 – 8 tahun pada rahang atas.


Gigi Taring (Caninus)

Posisi gigi ini terletak pada sudut mulut, di sebelah gigi seri, dan merupakan gigi yang paling panjang dalam rongga mulut. Fungsinya adalah untuk mengoyak makanan. Jumlahnya ada 4, dengan pembagian 2 ditiap rahang, 1 di kiri dan 1 di kanan. Gigi susu caninus ini diganti dengan gigi caninus permanen pada usia 11 – 13 tahun.


Gigi Geraham Kecil (Premolar)

Gigi ini jumlahnya 8, dengan pembagian 4 ditiap rahang, 2 di kiri dan 2 di kanan. Gigi ini hanya ada pada gigi dewasa, dan letaknya berada di belakang caninus. Tumbuh pada usia 10 – 11 tahun dan menggantikan posisi dari gigi molar susu. Bersama gigi molar, gigi ini berfungsi untuk melumatkan makanan, dan pada proses orthodontie, gigi ini sering “dikorbankan”.


Gigi Geraham (Molar)

Gigi molar susu berjumlah 8 seperti gigi premolar, kemudian lepas pada usia 10 – 11 tahun dan digantikan oleh gigi premolar. Sedangkan gigi molar permanen tumbuh di belakang gigi premolar setelah gigi molar susu lepas dan digantikan oleh gigi premolar. Jumlah dari gigi molar permanen adalah 12, dengan pembagian 6 di tiap rahang, 3 di tiap sisi kanan dan kiri. Gigi molar permanen inilah yang paling sering berlubang dan menyebabkan keluhan.


Proses Pertumbuhan Gigi

Dalam pertumbuhannya, gigi mengalami 2 fase pergantian. Diawali dari pertumbuhan gigi susu yang lengkap pada umur 3 tahun dengan jumlah 20 gigi, kemudian diganti dengan fase gigi tetap yang diawali pada usia 13 tahun keatas. Pertumbuhan gigi tetap ini menjadi lengkap setelah jumlah gigi menjadi 32 gigi, sekitar umur 17 – 21 tahun. Fase diantara awal fase gigi tetap sampai gigi tetap yang lengkap disebut fase gigi campuran, yaitu antara umur 13 – 17 tahun.

Minggu, 21 Desember 2008

Gigi bungsu kenapa sih?

Gigi bungsu kenapa sih?
Posted on Monday, April 28, 2008 comments (30)
Labels: GIGI


Dari beberapa pertanyaan yang masuk sering menanyakan mengapa sakit saat sibungsu tumbuh, apa memang harus sakit? Kebanyakan memang terasa sakit namun mengapa gigi bungsu harus tumbuh kalau hanya untuk membuat masalah. Mari kita bersama-sama menelusuri jejak langkah si bungsu yang selalau dipermasalahkan ini.

Pertumbuhan atau kemunculan gigi bungsu yang dalam dunia kedokteran gigi sering disebut dengan dens molaris inferior tertius atau molar ketiga ini memang kerap memberikan rasa sakit yang sangat menggangu aktifitas kita. Beberapa dari kita mungkin kurang paham akan gigi bungsu ini. mungkin saya dapet menjelaskan sedikit mengenai gigi bungsu ini.

Gigi bungsu adalah gigi geraham ketiga yang muncul pada usia sekitar 18-20 tahun.

Gigi bungsu termasuk dalam kategori struktur vestigial, yaitu struktur yang fungsi awalnya menjadi hilang atau berkurang sejalan dengan evolusi. Banyak ahli berpendapat bahwa perubahan jenis makanan pada manusia modern dari mentah menjadi dimasak membuat makanan lebih lunak. Selain itu, pemeliharaan gigi moderen mengalami kemajuan pesat. Akibatnya kerusakan pada gigi berkurang. Kehadiran gigi bungsu yang diperkirakan dapat membantu bila ada geraham lain yang tanggal menjadi tidak berguna, malah pada kebanyakan orang menjadi masalah.

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan gigi mengalami impaksi. Karena jaringan sekitarnya yang terlalu padat, adanya retensi gigi susu yang berlebihan, tanggalnya gigi susu terlalu awal. Bisa juga karena tidak adanya tempat untuk erupsi. Rahang "kesempitan" gara-gara pertumbuhan tulang rahang kurang sempurna.

Ada teori lain. Pertumbuhan rahang dan gigi mempunyai tendensi bergerak maju ke arah depan. Apabila pergerakan ini terhambat oleh sesuatu yang merintangi, bisa terjadi impaksi gigi. Misalnya, karena infeksi, trauma, malposisi gigi, atau gigi susu tanggal sebelum waktunya.

Sementara, menurut teori Mendel, pertumbuhan rahang dan gigi dipengaruhi oleh faktor keturunan. Jika salah satu orang tua (ibu) mempunyai rahang kecil, dan bapak bergigi besar-besar, ada kemungkinan salah seorang anaknya berahang kecil dan bergigi besar-besar. Akibatnya, bisa terjadi kekurangan tempat erupsi gigi bungsu, dan terjadilah impaksi.

Sempitnya ruang erupsi gigi bungsu, menurut drg. Danardono, itu karena pertumbuhan rahangnya kurang sempurna. Hal ini bisa karena perubahan pola makan. Manusia sekarang cenderung menyantap makanan lunak, sehingga kurang merangsang pertumbuhan tulang rahang.

Makanan lunak yang mudah ditelan menjadikan rahang tak aktif mengunyah. Sedangkan makanan banyak serat perlu kekuatan rahang untuk mengunyah lebih lama. Proses pengunyahan lebih lama justru menjadikan rahang berkembang lebih baik. Seperti diketahui, sendi-sendi di ujung rahang merupakan titik tumbuh atau berkembangnya rahang. Kalau proses mengunyah kurang, sendi-sendi itu pun kurang aktif, sehingga rahang tidak berkembang semestinya. Rahang yang harusnya cukup untuk menampung 32 gigi menjadi sempit. Akibatnya, gigi bungsu yang selalu tumbuh terakhir itu tidak kebagian tempat untuk tumbuh normal. Ada yang tumbuh dengan posisi miring, atau bahkan "tidur" di dalam karena tidak ada tempat untuk nongol.

Maka, untuk mendukung perkembangan rahang, sebaiknya sering-sering mengkonsumsi makanan berserat supaya gigi jadi lebih aktif menggigit, memotong, dan mengunyah. Rahang pun menjadi makin aktif dan diharapkan akan tumbuh normal. Dampaknya, pertumbuhan gigi pun bisa lebih bagus. Tapi jangan lupa, periksakan gigi secara rutin untuk memantau kesehatan gigi.

Beberapa sumber memberikan definisi yang berbeda dan tanggapan yang berbeda tentang gigi bungsu ini, salah satu sumber yang membahas tentang masalah pada gigi bungu ini dapat saya kutipkan dan menurut saya lengkap menjelaskan masalah pada gigi bungsu ini dari wikipedia.

Masalah pada gigi bungsu

Gigi yang berdesakan

Karena gigi bungsu tumbuh paling akhir, terkadang rahang tidak memiliki tempat yang cukup untuk gigi bungsu tumbuh dengan wajar. Akibatnya gigi bungsu mendesak gigi geraham yang berada di depannya. Hal ini akan mengakibatkan sakit pada gigi. Masalah ini umumnya diatasi dengan mencabut gigi bungsu yang baru tumbuh. Bila gigi bungsu menempati posisi yang sulit untuk dicabut, yang dicabut adalah gigi geraham yang terdesak sehingga gigi bungsu mendapat tempat yang cukup untuk tumbuh.


Gigi yang tidak muncul sempurna pada gusi

Terkadang gigi bungsu tidak muncul dengan sempurna pada gusi. Gusi yang menutupi gigi dapat menyebabkan penumpukan sisa makanan dan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi dan sakit pada gigi.


Pengobatan


Pencabutan

Sebelum dicabut, gigi umumnya akan difoto terlebih dahulu dengan sinar X untuk mengetahui bentuk, posisi dan kedalaman gigi. Pencabutan gigi bungsu biasanya dilakukan dengan pembiusan lokal, namun terkadang juga dilakukan dengan bius total. Walaupun tergolong operasi kecil, pencabutan gigi sebaiknya dilakukan secara profesional oleh dokter gigi, mengigat komplikasi yang mungkin timbul saat dan setelah pencabutan.


Hal yang perlu diperhatikan setelah pencabutan gigi

Untuk mempercepat proses penyembuhan:
Usahakan beristirahat sepanjang hari dan tidak mengerjakan pekerjaan berat.
Hindari merokok. Bila memungkinkan selama proses penyembuhan (3-4 hari), minimal selama 24 jam setelah operasi.
Hindari berkumur atau menggosok gigi selama 24 jam setelah operasi
Setelah 24 jam, kebersihan daerah operasi dapat dijaga dengan berkumur air hangat bergaram (1 sendok teh garam untuk 1 gelas air) minimal 4 kali sehari. Berkumurlah dengan hati-hati karena tekanan dapat menyebabkan lubang bekas operasi terbuka lagi dan terjadi pendarahan.
Setelah 24 jam, meggosok gigi dapat dilakukan dengan hati-hati, terutama di daerah operasi.
Bila diberi obat penahan sakit dan antibiotik, minumlah sesuai petunjuk dokter. Antibiotik harus dihabiskan walaupun gigi sudah tidak terasa sakit. Sebaliknya, obat penahan sakit dapat dihentikan bila sakit mereda.
Makan dan minumlah seperti biasanya. Hindari berdiet, karena makan dan minum yang cukup sangat penting untuk proses penyembuhan.
Hindari minum menggunakan sedotan karena tekanannya dapat melepaskan gumpalan darah pada lubang operasi.
Hindari minuman bersoda karena busanya diperkirakan dapat melepaskan gumpalan darah pada lubang operasi. Minuman jus buah terutama jeruk sangat disarankan.
Makan tambahan vitamin C dianjurkan.
Untuk menghindari pembengkakan, setelah operasi rahang sebaiknya dikompres dengan es atau air dingin. Tempelkan kompres dingin selama 15 menit, diseling 10 menit tanpa kompres, diulang sampai saat istirahat malam.
Pada hari-hari setelah hari operasi, rahang dapat dikompres dengan kompres hangat, untuk menstimulasi peredaran darah di daerah gigi bungsu yang dapat mempercepat penyembuhan.

Selain hal-hal di atas, pembiusan yang dilakukan sebelum operasi juga dapat berpengaruh pada kemampuan psikis dan mekanis. Jangan berkendara, melakukan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi, atau menandatangani dokumen penting pada hari yang sama. Bila menggunakan bius total, usahakan ada seseorang yang dapat menemani selama minimal satu hari tersebut.


Masalah yang mungkin timbul setelah pencabutan


Pendarahan

Pendarahan tidak dapat dihindari dan dapat berlangsung selama satu hari penuh. Berkumur pada saat pendarahan terjadi sangat tidak dianjurkan. Pendarahan akan berhenti saat darah mulai menggumpal di lubang pencabutan, dan berkumur dapat menyebabkan gumpalan darah terlepas. Hal ini dapat memperlambat proses penyembuhan dan menyebabkan pendarahan terjadi lebih lama.

Bila terjadi pendarahan, letakkan gulungan kecil kasa steril (umumnya diberikan oleh dokter gigi) pada lubang bekas pencabutan. Kasa harus digigit dengan baik dengan tekanan secukupnya. Cara ini akan membantu menghentikan pendarahan, tetapi jangan dilakukan telalu berlebihan sehingga menimbulkan iritasi pada lubang pencabutan. Gulungan kasa hanya boleh digigit selama sekitar 20 menit. Bila terlalu lama, darah dapat membeku pada kasa dan gumpalan darah dapat terlepas lagi saat kasa dibuang. Bila pendarahan masih terjadi setelah 20 menit, ganti dengan kasa yang baru. Demikian seterusnya hingga pedarahan berkurang atau berhenti.

Bila pendarahan terus berlanjut setelah 1 hari, segera kembali ke dokter gigi dan laporkan. Pendarahan yang terus menerus menunjukkan masalah pada proses penyembuhan.


Lubang operasi tidak tertutup sempurna (Dry socket)

Pada umumnya, setelah gigi bungsu dicabut, darah akan menggenangi lubang bekas gigi dan menggumpal. Terbentuknya gumpalan darah ini sangat penting karena berfungsi sebagai tempat gusi kemudian akan tumbuh menutupi lubang. Diperkirakan sebanyak 5-10% kasus mengalami penutupan lubang yang tidak sempurna atau terlepasnya gumpalan darah sebelum waktunya, sehingga syaraf pada gusi dan bahkan tulang rahang menjadi terbuka (dry socket). Telah diketahui bahwa umumnya penderita dry socket adalah perempuan yang minum pil kontrasepsi. Diperkirakan dry socket dapat dihindari dengan melakukan operasi pada hari ke-22 hingga ke-28 siklus, yaitu saat kadar estrogen sedang pada titik terendah.


Infeksi

Infeksi yang terjadi saat proses penyembuhan dapat dihindari dengan minum antibiotik dan menjaga kebersihan mulut. Berkumur dengan air garam setiap selesai makan dapat membantu membersihkan daerah operasi.


Semoga dapet membantu, artikel ini saya buat dengan mengkutip beberap artikel dari wikipedia dan ilmu yang saya dapatkan dibangku kuliah, semoga sehat selalu.

Kamis, 18 Desember 2008

Kaitan berus gigi dengan serangan jantung?

Friday, December 19, 2008
Kaitan berus gigi dengan serangan jantung?

Aku : Dah berus gigike belum?

Teman : Belum..

Aku : Pergilah berus.. bahaya tu.

Teman : Bahaya... apa yang bahaya?

Aku : Bahaya... nanti kau kena serangan jantung.

Teman : Serangan jantung!!! Betulke?


Aku tersenyum melihat teman terpinga-pinga. Antara percaya dengan tidak.

Aku memberikan satu artikel kepadanya. Lantas dibacanya dengan penuh minat…

Menurut Pensyarah Jabatan Periodontologi, Fakulti Pergigian Universiti Carolina Utara, Profesor Ray William, kajian klinikal membuktikan bahawa banyak kes serangan jantung juga berlaku kepada individu yang kurang memberi penjagaan pada kebersihan mulut.

Menurut Prof. Ray William, bakteria dalam mulut boleh merebak ke organ lain melalui salur darah. Kehadiran bakteria merangsang sistem imun badan untuk bertindak balas bagi menghapuskannya. Kesan tindak balas ini boleh menyebabkan keradangan, terutama pada sistem kardiovaskular (jantung) dengan menebalkan dinding salur darah. Keadaan ini lama kelamaan menyebabkan salur darah menjadi sempit dan serangan jantungpun boleh berlaku.

Malah dalam kajian lainpun terdapat para penyelidik yang turut mengaitkan kehadiran bakteria dalam mulut juga boleh menyebabkan seseorang itu terkena serangan strok, kencing manis, kelahiran tak cukup bulan dan bayi lahir tidak cukup berat.

Aku lihat teman aku itu mengerutkan dahinya...

Aku terus tersenyum… "hai teman, jangan banyak fikir. Cepat! pergi berus gigi tu.. hehe"

Posted by Rashid at 19.12.08

karies dan diet

Karies dan Diet
Posted on Thursday, August 07, 2008 comments (28)
Labels: Dunia Medis Kita

Karies merupakan salah satu penyakit gigi dan mulut yang disebabkan oleh beberapa faktor, saya rasa sudah perbah saya bahas dan dipostingan sebelumnya anda akan lebih jelas mengenai karies :). Diet salah satu trend anak muda sekarang terutama bagi para remaja putri yang ingin tampil lebih PD dan menjaga kelangsingan tubuhnya. Namun apa hubungan antara karies dan diet ya? disini saya akan coba menjelaskan sedikit.


Pada dasarnya hubungan antara karies dan diet sangat simpel dan mudah untuk dimengerti, beberapa orang yang menjalani diet sehat dan berprilaku hidup sehat akan mengalami penurunan masalah gigi. mengapa demikian, hal ini dikarenakan konsumsi gula pada tubuh dikurangi dan lebih banyak mengkonsumsi bahan atau makanan dengan pemanis alami seperti buah-buahan yang sangat baik bagi tubuh maupun bagi kesehatan gigi dan mulut. Apabila kita mengkonsumsi buah-buahan seperti apel, apel secara tidak langsung akan membantu membersihkan gigi secara alami bisa diibaratkan kita menggosok gigi, nah sangat dianjurkan untuk menu penutup menggunakan apel atau ganti snak anda dengan buah - buahan. Selain gigi dan mulut kita sehat maka badan kita tetap langsing :).

Hubungan antara diet dan karies erat sekali kaitannya dengan jumlah konsumsi pemanis atau gula yang dikonsumsi oleh tubuh kita, sebenarnya Tuhan telah menciptakan gigi dan mulut kita sebagai gerbang dan peringatan yang sangat luar biasa. bagai mana tidak, apabila makanan yang kita konsumsi tidak baik bagi tubuh atau merugikan maka gelaja yang nampak akan terlihat pada daerah disekitar rongga mulut seperti : Amandel, sariawan, bibir pecah - pecah, karies, sakit tenggorokan dan lain - lain. maka kenali makanan yang anda konsumsi. Sangat dianjurkan untuk kembali ke pola hidup sederhana dan kembali ke alam. Saran saya mulai sekarang tinggalkan makanan dengan bahan kimia dan kembalilah Natural.

Sekedar tambahan:
Ingat pengolahan masakan dengan MSG mengidikasikan pembuat makanan kurang cakap mengolah bahan masakan dengan paduan bumbu - bumbu yang tersedia. apabila seorang koki atau tukang masak bisa mengolah bahan makanan dan bumbunya tidak perlu ditambah bahan penyedap.

Rabu, 03 Desember 2008

Gosok Gigi

Wednesday, December 3, 2008
Gosok Gigi
Aku tersadar dari tidur. Hal pertama yang kuingat adalah belum gosok gigi sebelum tidur tadi. Ah terang saja, aku memang belum berniat tidur. Tadi itu ketiduran, posisiku pun masih di depan TV, bukan nonton tapi ditonton TV.

Sudah jam 1 pagi. Dan melewatkan ritual gosok gigi sebelum tidur dijamin bakal bikin runyam. Tidurku sudah pasti nyapnyap. Aku mencoba memanipulasi diri, membuat penawaran-penawaran (tak) penting.

- gosok giginya absen aja, toh seharian tadi udah dua kali
+ tapi kan, abis gosok gigi kedua aku makan lagi

tawaran pertama gagal!

- ntar lagi pagi, gosok gigi pagi2 kan bisa. sekarang tidur aja
+ aduuuh gigiku bisa rusak, masih ada sisa makanan di gigiku. sambal tempe, tumis kapri, dan biskuit coklat (menunya ga matching gini :P)

tawaran kedua gagal!

Arrrgghhh aku ngantuuuuk dan gagal memanipulasi diri. Tempat gosok gigi dua meter jaraknya dari ruang TV. Aku harus sampai di sana sesegera mungkin. Ah, apa mau dikata. Ayo bangun! Gosok gigi!

Kalau lagi begini aku langsung ingat ibu, nasehatnya yang membuatku jadi begini. Mungkin dulu ibu menyusupkan mantra-mantra sakti supaya ajarannya meresap sedalam ini pada diriku. Sampai-sampai aku tidak bisa melewatkan kebiasaan remeh macam begini, bahkan di saat ngantuuuuuk seperti ini.

Hahhh. Sudahhhh. Bereshhhh. Bersihhh. Seghhhar...

Aku harus menelepon ibu nanti. memintanya menurunkan tips dan trik menanamkan kebiasaan gosok gigi pada anak. Aku harus sesakti ibu, bikin anakku sulit berkelit dari urusan gosok-menggosok gigi. Kalau perlu biar seperti aku, mendadak bangun cuma buat gosok gigi. cape deeee.

Melihat Penyakit Melalui Gigi

Rabu, 2008 Desember 03
Melihat Penyakit Melalui Gigi
Meropong Penyakit Melalui Gigi
Tahukah Anda bahwa gejala awal penyakit diabetes, jantung, atau leukemia, bisa diketahui lewat kondisi gigi dan mulut. Jika mata bisa mengungkapkan isi hati seseorang, mulut juga bisa buka rahasia. Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), drg H Emmyr F Moeis, MARS mengatakan, kondisi gigi dan mulut bisa mengungkapkan gejala-gejala awal penyakit berbahaya bahkan sampai memprediksi kelahiran prematur.

Menurut Emmyr F Moeis, salah satu tanda gejala diabetes adalah penyakit gigi dan gusi yang berlebihan. Penderita diabetes cenderung memiliki penyakit mulut 3-4 kali lebih sering ketimbang orang yang tidak mengidap diabetes. Penderita diabetes umumnya mudah terluka saat menyikat gigi atau menggunakan benang pembersih gigi. Gigi penderita diabetes juga umumnya mengalami abses.

Hal itu bisa terjadi karena penderita diabetes umumnya mengalami kerusakan sel darah putih. Padahal sel darah putih sangat diperlukan untuk melawan bakteri penyebab infeksi di mulut. Selain masalah gusi, diabetes juga mengakibatkan mulut kering, sariawan, dan mulut panas.

Bau mulut seseorang juga bisa mengungkapkan apakah seseorang memiliki kecenderungan gula darah tinggi. Bau tersebut biasa disebut acetone breath bau manis yang dapat segera dikenali dokter gigi sebagai tanda-tanda seseorang mengidap diabetes.

Lain lagi dengan bau mulut tak sedap penderita diabetes, bau mulut yang berbeda juga dapat mengindikasikan seseorang sedang mengalami infeksi hidung, mulut, paru-paru, atau perut.

Penelitian yang dilakukan American Dental Association sebagaimana dilansir Webmd, menyebutkan, osteoporosis atau penyakit rapuh tulang dan tanggalnya gigi sangat berhubungan. Jika seseorang mengalami Osteoporosis maka ia mengalami penurunan kepadatan tulang. Akibatkan terjadi cedera pada pinggul dan beberapa bagian tubuh lainnya yang disanggah tulang. Proses ini juga mempengaruhi kokohnya rahang dan gigi.

Pada wanita, ada tiga empat momen di mana seseorang lebih berisiko terhadap penyakit mulut. Pertama, saat setelah menopause, ketika masa puber, pada saat hamil, dan sekitar masa menstruasi setiap bulannya. Pada masa-masa itu, hormon tertentu akan meningkat sehingga memicu proses-proses peradangan dan membuat mulut lebih rentan terhadap bakteri.

Ditemukannya terapi estrogen bisa membantu mengatasi masalah ini. Terapi ini bisa membantu mengurangi tingkat kerapuhan gigi dan radang gusi.

Penelitian terbaru membandingkan kesehatan mulut 256 pasien jantung dewasa dengan 250 pasien lain tanpa penyakit jantung. Hasilnya, salah satu penanda awal sakit jantung adalah pericoronitis atau infeksi gusi di sekitar gigi geraham. Biasanya gigi akan membusuk sehingga hanya menyisakan ujung kecil di akarnya. Pastinya penyakit ini juga disertai radang gusi, radang lainnya di mulut, dan tanggalnya gigi.

Hal itu diduga karena bakteri yang ditemukan di mulut merupakan bakteri yang sama sebagai penyebab atherosclerotic plaque (kelainan pada pembuluh darah yang disertai plak dan tidak elastis) yang berhubungan dengan penyakit jantung.

Penelitian lain membuktikan, wanita yang mengalami gangguan gusi selama masa kehamilan, 7 kali lebih berisiko mengalami kelahiran prematur. Tak hanya prematur, bayi yang dilahirkan juga umumnya lebih kecil dari rata-rata.

Hal itu disebabkan ketika seseorang mengalami gangguan mulut, peradangan yang terjadi menyebab beberapa zat tertentu dilepaskan ke aliran darah sehingga bisa mempengaruhi berat tubuh bayi dan proses persalinan. Studi lain menyebutkan, membersihkan plak dan tartar secara teratur bisa mengurangi risiko persalinan prematur.

Penderita Leukimia umumnya memiliki gusi yang memerah, meradang, dan lembek. Nah, dengan membuka mulut lebar-lebar setidaknya anda bisa mengantisipasi beberapa gejala awal penyakit berbahaya. Tapi, jangan tarik kesimpulan sendiri. "Segera konsultasikan ke dokter jika mengalami gejala-gejala seperti tersebut di atas," ujarnya.

Kampanye Pencegahan


Melihat pentingnya kesehatan gigi dan mulut, mendorong PB PDGI bekerja sama dengan PT Pfizer Indonesia menggelar "Kampanye pencegahan dan perawatan kesehatan gigi dan mulut" di Indonesia. Upaya yang dilakukan, antara lain, program sekolah di DKI Jakarta , dental mobile unit program, semiloka dan workshop terkait dengan profesi kedokteran gigi, dan partisipasi pada Asia Pasific Dental Congress.

"Hasil Survei Rumah Tangga 2004 menyebutkan 39 persen penduduk Indonesia menderita penyakit gigi dan mulut. Angka itu bukan merupakan angka yang dapat diabaikan karena telah terbukti bahwa penyakit gigi dan mulut dapat secara signifikan mempengaruhi produktivitas masyarakat. Karena itu, perlu dilakukan suatu kampanye yang terus menerus untuk menurunkan angka penderita penyakit gigi dan mulut," katanya.

Ada 4 anjuran pokok yang akan disampaikan kepada masyarakat, yaitu, pertama, sikat gigi 2 kali sehari dengan pasta gigi ber-flouride, terutama sesudah makan pagi dan sebelum tidur. Kedua, ganti sikat gigi 2-3 bulan sekali. Ketiga, kunjungi dokter gigi secara teratur minimal 2 kali setahu dan memiliki dental record. Keempat, kurangi makan makanan dan minuman yang mengandung gula.

Hasil studi morbiditas SKRT (Survei Kesehatan Rumah Tangga)-Surkenas (survei Kesehatan Nasional) 2001 menunjukkan, dari 10 kelompok penyakit terbanyak yang dikeluhkan masyarakat, penyakit gigi dan mulut menduduki urutan pertama (60 persen). Hasil surkenas 1998 menunjukan bahwa 62,4 persen penduduk merasa terganggu produktivitas kerja/sekolah karena sakit gigi, selama rata-rata 3,86 hari.

Secara umum penyakit gigi yang dikeluhkan masyarakat adalah karies gigi dan penyakit gusi. Hasil studi SKRT 2001, menyatakan, 52,3 persen penduduk usia 10 tahun ke atas mengalami karies gigi yang belum ditangani. Prevalensi karies umur 10 tahun ke atas adalah 71,2 persen, dengan catatan bahwa prevalensi karies lebih tinggi pada umur lebih tinggi, pada pendidikan lebih rendah, serta pada status ekonomi lebih rendah. Penduduk usia 10 tahun ke atas, 46 persen mengalami penyakit gusi, prevalensi semakin tinggi pada umur yang lebih tinggi.

Hal yang memprihatinkan dalam SKRT 2001 adalah motivasi untuk menambal gigi masih sangat rendah yaitu 4-5 persen, sementara besarnya kerusakan yang belum ditangani di mana memerlukan penambalan dan atau pencabutan mencapai 82,5 persen. Diketahui berdasarkan SKRT 2001, rata-rata 16 gigi dicabut pada umur 65 tahun ke atas.

Penyakit periodontal (radang jaringan pendukung gigi) merupakan penyakit gigi dan mulut lain yang banyak dikeluhkan (70 persen). Sementara 5 persennya dikategorikan lanjut yang dapat menyebabkan gigi goyang dan lepas, saat ini banyak ditemukan pada penduduk usia muda. Salah satu faktor penyebab penyakit ini adalah karang gigi yang dijumpai pada 46 persen penduduk.

Kondisi itu menggambarkan, pelayanan kesehatan gigi baru ditangani pada kondisi penyakit yang sudah dalam keadaan parah. Hal itu disebabkan, antara lain masih kurangnya kesadaran masyarakat mengenai arti penting menjaga kesehatan gigi dan mulut, ketidaktahuan, mahalnya biaya. "Serta yang perlu diperhatikan oleh PDGI, adalah banyaknya dokter gigi yang cenderung pasif serta masih memberikan porsi yang besar pada tindakan kuratif," ujar Emmyr.

Hal lain yang menjadi perhatian PDGI adalah rasio dokter gigi terhadap penduduk yang masih rendah, yaitu 1:21.500, masih jauh dari rasio ideal yaitu 1:2000. Untuk itu, bersama Kolegium Kedokteran Gigi Indonesia, PDGI mendorong terbentuknya Fakultas Kedokteran Gigi baru, terutama di Indonesia bagian barat, mengingat data Depkes menyatakan bahwa rasio dokter gigi terhadap puskesmas di Indonesia bagian barat lebih tinggi daripada bagian timur. Di provinsi Sumut misalnya, rasio dokter gigi terhadap puskesmas 0,82, bandingkan dengan NTT yang 0,27 atau bahkan Papua mencapai 0,21.

Dengan kondisi seperti itu, Emmyr menilai perlu didorong sikap kemandirian masyarakat, terutama tindakan preventif yang dapat dilakukan setiap individu, keluarga, serta lingkungan terkecil di masyarakat.

Sikap kemandirian itu perlu didorong terus-menerus melalui berbagi upaya dan kegiatan yang berkesinambungan. Namun, upaya itu tidak saja oleh pihak organisasi profesi tetapi akan lebih optimal jika melibatkan pihak-pihak lain yang mempunyai kompetensi dan kepentingan yang sama dalam hal peningkatan derajat kesehatan gigi dan mulut di Indonesia
Diposkan oleh Galih Gumelar Center di 10:53

Melihat Penyakit Melalui Gigi

Rabu, 2008 Desember 03
Melihat Penyakit Melalui Gigi
Meropong Penyakit Melalui Gigi
Tahukah Anda bahwa gejala awal penyakit diabetes, jantung, atau leukemia, bisa diketahui lewat kondisi gigi dan mulut. Jika mata bisa mengungkapkan isi hati seseorang, mulut juga bisa buka rahasia. Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), drg H Emmyr F Moeis, MARS mengatakan, kondisi gigi dan mulut bisa mengungkapkan gejala-gejala awal penyakit berbahaya bahkan sampai memprediksi kelahiran prematur.

Menurut Emmyr F Moeis, salah satu tanda gejala diabetes adalah penyakit gigi dan gusi yang berlebihan. Penderita diabetes cenderung memiliki penyakit mulut 3-4 kali lebih sering ketimbang orang yang tidak mengidap diabetes. Penderita diabetes umumnya mudah terluka saat menyikat gigi atau menggunakan benang pembersih gigi. Gigi penderita diabetes juga umumnya mengalami abses.

Hal itu bisa terjadi karena penderita diabetes umumnya mengalami kerusakan sel darah putih. Padahal sel darah putih sangat diperlukan untuk melawan bakteri penyebab infeksi di mulut. Selain masalah gusi, diabetes juga mengakibatkan mulut kering, sariawan, dan mulut panas.

Bau mulut seseorang juga bisa mengungkapkan apakah seseorang memiliki kecenderungan gula darah tinggi. Bau tersebut biasa disebut acetone breath bau manis yang dapat segera dikenali dokter gigi sebagai tanda-tanda seseorang mengidap diabetes.

Lain lagi dengan bau mulut tak sedap penderita diabetes, bau mulut yang berbeda juga dapat mengindikasikan seseorang sedang mengalami infeksi hidung, mulut, paru-paru, atau perut.

Penelitian yang dilakukan American Dental Association sebagaimana dilansir Webmd, menyebutkan, osteoporosis atau penyakit rapuh tulang dan tanggalnya gigi sangat berhubungan. Jika seseorang mengalami Osteoporosis maka ia mengalami penurunan kepadatan tulang. Akibatkan terjadi cedera pada pinggul dan beberapa bagian tubuh lainnya yang disanggah tulang. Proses ini juga mempengaruhi kokohnya rahang dan gigi.

Pada wanita, ada tiga empat momen di mana seseorang lebih berisiko terhadap penyakit mulut. Pertama, saat setelah menopause, ketika masa puber, pada saat hamil, dan sekitar masa menstruasi setiap bulannya. Pada masa-masa itu, hormon tertentu akan meningkat sehingga memicu proses-proses peradangan dan membuat mulut lebih rentan terhadap bakteri.

Ditemukannya terapi estrogen bisa membantu mengatasi masalah ini. Terapi ini bisa membantu mengurangi tingkat kerapuhan gigi dan radang gusi.

Penelitian terbaru membandingkan kesehatan mulut 256 pasien jantung dewasa dengan 250 pasien lain tanpa penyakit jantung. Hasilnya, salah satu penanda awal sakit jantung adalah pericoronitis atau infeksi gusi di sekitar gigi geraham. Biasanya gigi akan membusuk sehingga hanya menyisakan ujung kecil di akarnya. Pastinya penyakit ini juga disertai radang gusi, radang lainnya di mulut, dan tanggalnya gigi.

Hal itu diduga karena bakteri yang ditemukan di mulut merupakan bakteri yang sama sebagai penyebab atherosclerotic plaque (kelainan pada pembuluh darah yang disertai plak dan tidak elastis) yang berhubungan dengan penyakit jantung.

Penelitian lain membuktikan, wanita yang mengalami gangguan gusi selama masa kehamilan, 7 kali lebih berisiko mengalami kelahiran prematur. Tak hanya prematur, bayi yang dilahirkan juga umumnya lebih kecil dari rata-rata.

Hal itu disebabkan ketika seseorang mengalami gangguan mulut, peradangan yang terjadi menyebab beberapa zat tertentu dilepaskan ke aliran darah sehingga bisa mempengaruhi berat tubuh bayi dan proses persalinan. Studi lain menyebutkan, membersihkan plak dan tartar secara teratur bisa mengurangi risiko persalinan prematur.

Penderita Leukimia umumnya memiliki gusi yang memerah, meradang, dan lembek. Nah, dengan membuka mulut lebar-lebar setidaknya anda bisa mengantisipasi beberapa gejala awal penyakit berbahaya. Tapi, jangan tarik kesimpulan sendiri. "Segera konsultasikan ke dokter jika mengalami gejala-gejala seperti tersebut di atas," ujarnya.

Kampanye Pencegahan


Melihat pentingnya kesehatan gigi dan mulut, mendorong PB PDGI bekerja sama dengan PT Pfizer Indonesia menggelar "Kampanye pencegahan dan perawatan kesehatan gigi dan mulut" di Indonesia. Upaya yang dilakukan, antara lain, program sekolah di DKI Jakarta , dental mobile unit program, semiloka dan workshop terkait dengan profesi kedokteran gigi, dan partisipasi pada Asia Pasific Dental Congress.

"Hasil Survei Rumah Tangga 2004 menyebutkan 39 persen penduduk Indonesia menderita penyakit gigi dan mulut. Angka itu bukan merupakan angka yang dapat diabaikan karena telah terbukti bahwa penyakit gigi dan mulut dapat secara signifikan mempengaruhi produktivitas masyarakat. Karena itu, perlu dilakukan suatu kampanye yang terus menerus untuk menurunkan angka penderita penyakit gigi dan mulut," katanya.

Ada 4 anjuran pokok yang akan disampaikan kepada masyarakat, yaitu, pertama, sikat gigi 2 kali sehari dengan pasta gigi ber-flouride, terutama sesudah makan pagi dan sebelum tidur. Kedua, ganti sikat gigi 2-3 bulan sekali. Ketiga, kunjungi dokter gigi secara teratur minimal 2 kali setahu dan memiliki dental record. Keempat, kurangi makan makanan dan minuman yang mengandung gula.

Hasil studi morbiditas SKRT (Survei Kesehatan Rumah Tangga)-Surkenas (survei Kesehatan Nasional) 2001 menunjukkan, dari 10 kelompok penyakit terbanyak yang dikeluhkan masyarakat, penyakit gigi dan mulut menduduki urutan pertama (60 persen). Hasil surkenas 1998 menunjukan bahwa 62,4 persen penduduk merasa terganggu produktivitas kerja/sekolah karena sakit gigi, selama rata-rata 3,86 hari.

Secara umum penyakit gigi yang dikeluhkan masyarakat adalah karies gigi dan penyakit gusi. Hasil studi SKRT 2001, menyatakan, 52,3 persen penduduk usia 10 tahun ke atas mengalami karies gigi yang belum ditangani. Prevalensi karies umur 10 tahun ke atas adalah 71,2 persen, dengan catatan bahwa prevalensi karies lebih tinggi pada umur lebih tinggi, pada pendidikan lebih rendah, serta pada status ekonomi lebih rendah. Penduduk usia 10 tahun ke atas, 46 persen mengalami penyakit gusi, prevalensi semakin tinggi pada umur yang lebih tinggi.

Hal yang memprihatinkan dalam SKRT 2001 adalah motivasi untuk menambal gigi masih sangat rendah yaitu 4-5 persen, sementara besarnya kerusakan yang belum ditangani di mana memerlukan penambalan dan atau pencabutan mencapai 82,5 persen. Diketahui berdasarkan SKRT 2001, rata-rata 16 gigi dicabut pada umur 65 tahun ke atas.

Penyakit periodontal (radang jaringan pendukung gigi) merupakan penyakit gigi dan mulut lain yang banyak dikeluhkan (70 persen). Sementara 5 persennya dikategorikan lanjut yang dapat menyebabkan gigi goyang dan lepas, saat ini banyak ditemukan pada penduduk usia muda. Salah satu faktor penyebab penyakit ini adalah karang gigi yang dijumpai pada 46 persen penduduk.

Kondisi itu menggambarkan, pelayanan kesehatan gigi baru ditangani pada kondisi penyakit yang sudah dalam keadaan parah. Hal itu disebabkan, antara lain masih kurangnya kesadaran masyarakat mengenai arti penting menjaga kesehatan gigi dan mulut, ketidaktahuan, mahalnya biaya. "Serta yang perlu diperhatikan oleh PDGI, adalah banyaknya dokter gigi yang cenderung pasif serta masih memberikan porsi yang besar pada tindakan kuratif," ujar Emmyr.

Hal lain yang menjadi perhatian PDGI adalah rasio dokter gigi terhadap penduduk yang masih rendah, yaitu 1:21.500, masih jauh dari rasio ideal yaitu 1:2000. Untuk itu, bersama Kolegium Kedokteran Gigi Indonesia, PDGI mendorong terbentuknya Fakultas Kedokteran Gigi baru, terutama di Indonesia bagian barat, mengingat data Depkes menyatakan bahwa rasio dokter gigi terhadap puskesmas di Indonesia bagian barat lebih tinggi daripada bagian timur. Di provinsi Sumut misalnya, rasio dokter gigi terhadap puskesmas 0,82, bandingkan dengan NTT yang 0,27 atau bahkan Papua mencapai 0,21.

Dengan kondisi seperti itu, Emmyr menilai perlu didorong sikap kemandirian masyarakat, terutama tindakan preventif yang dapat dilakukan setiap individu, keluarga, serta lingkungan terkecil di masyarakat.

Sikap kemandirian itu perlu didorong terus-menerus melalui berbagi upaya dan kegiatan yang berkesinambungan. Namun, upaya itu tidak saja oleh pihak organisasi profesi tetapi akan lebih optimal jika melibatkan pihak-pihak lain yang mempunyai kompetensi dan kepentingan yang sama dalam hal peningkatan derajat kesehatan gigi dan mulut di Indonesia
Diposkan oleh Galih Gumelar Center di 10:53

Senin, 01 Desember 2008

gigi

GIGI Ajak Kita Meniti “Jalan Kebenaran”
2008-08-21 08:35:30 - Ramadhan tahun 2008 ini GIGI meluncurkan “Jalan Kebenaran”, album religinya yang ke 4. Berbeda dengan 3 album sebelumnya di mana GIGI banyak membawakan lagu orang dengan aransemen ala GIGI, di album b... - selengkapnya


setelah ami 2008.... kini apm 2008
3 penghargaan ami awards 2008 untuk gigi
"konser peace, love 'n respect" kenapa 11 januari, kenapa jogja?
lewatlah sudah masa itu.....
Navigasi Berita » 1 | 2 | 3 | 4 | 5


GIGI MANAGEMENT (POS entertainment) :
Jl. Tebet Dalam IV E No.65 JAKARTA 1280
Tel. 021 8315858 - 8315939
Fax. 021 8355956
email : management@gigionline.com

gigikit@ fansclub :
Jl. H.O.S. Cokroaminoto 12 JAKARTA 10350
Tel. 021 3904404 /Fax. 021 2301581
merchandising : 081809506161
email fansclub : gigikita@gigionline.com
email merchandising : merchandise@gigionline.com


©2005 - 2008 Gigionline.com | CSS Valid | XHTML 1.0 valid
graphic by dedidude, html|css|backend by godote

Tooth

Tooth
From Wikipedia, the free encyclopedia
Jump to: navigation, search
"Teeth" redirects here. For the film, see Teeth (film).
Teeth

An adult human's teeth.

CGI posterior view of teeth taken from inside mouth
Dorlands/Elsevier Tooth
Teeth (singular, Tooth) are small whitish structures found in the jaws (or mouths) of many vertebrates that are used to tear, scrape, milk and chew food. Some animals, particularly carnivores, also use teeth for hunting or defense. The roots of teeth are covered by gums. Teeth are not made of bone, but rather of tissues of varying density and hardness.

Teeth are among the most distinctive (and long-lasting) features of mammal species. Paleontologists use teeth to identify fossil species and determine their relationships. The shape of the animal's teeth are related to its diet. For example, plant matter is hard to digest, so herbivores have many molars for chewing. Carnivores, on the other hand, need canines to kill and tear meat.

Mammals are diphyodont, meaning that they develop two sets of teeth. In humans, the first set (the "baby," "milk," "primary" or "deciduous" set) normally starts to appear at about six months of age, although some babies are born with one or more visible teeth, known as neonatal teeth. Normal tooth eruption at about six months is known as teething and can be painful.

Some animals develop only one set of teeth (monophyodont) while others develop many sets (polyphyodont). Sharks, for example, grow a new set of teeth every two weeks to replace worn teeth. Rodent incisors grow and wear away continually through gnawing, maintaining relatively constant length. Many rodents, such as the sibling vole and the guinea pig[verification needed], have continuously growing molars in addition to incisors.[1][2]

Contents [hide]
1 Anatomy
2 Parts
2.1 Enamel
2.2 Dentin
2.3 Cementum
2.4 Pulp
3 Development
4 Eruption
5 Supporting structures
5.1 Periodontal ligaments
5.2 Alveolar bone
5.3 Gingiva
6 Tooth decay
6.1 Plaque
6.2 Caries (Cavities)
7 Tooth care
8 Restorations
9 Abnormalities
9.1 Digestive
9.1.1 Alteration during tooth development
9.1.2 Destruction after development
9.1.3 Discoloration
9.1.4 Alteration of eruption
9.2 Developmental
9.2.1 Abnormality in number
9.2.2 Abnormality in size
9.2.3 Abnormality in shape
9.2.4 Abnormality in structure
10 Non-human animals
11 See also
11.1 Lists
12 References
13 External links



Anatomy

A third molar.Main article: Dental anatomy
The bottom teeth are used more for the grinding of food and the top front teeth are mainly used for biting.

Dental anatomy is a field of anatomy dedicated to the study of tooth structures. The development, appearance, and classification of teeth fall within its field of study, though dental occlusion, or contact among teeth, does not. Dental anatomy is also a taxonomical science as it is concerned with the naming of teeth and their structures. This information serves a practical purpose for dentists, enabling them to easily identify teeth and structures during treatment.

The anatomic crown of a tooth is the area covered in enamel above the cementoenamel junction (CEJ).[3] The majority of the crown is composed of dentin with the pulp chamber in the center.[4] The crown is within bone before eruption.[5] After eruption, it is almost always visible. The anatomic root is found below the cementoenamel junction and is covered with cementum. As with the crown, dentin composes most of the root, which normally have pulp canals. A tooth may have multiple roots or just one root. Canines and most premolars, except for maxillary (upper) first premolars, usually have one root. Maxillary first premolars and mandibular molars usually have two roots. Maxillary molars usually have three roots. Additional roots are referred to as supernumerary roots.


Models of human teeth as they exist within the alveolar bone.Humans usually have 20 primary teeth (also called deciduous, baby, or milk teeth) and 32 permanent teeth. Among primary teeth, 10 are found in the (upper) maxilla and the other 10 in the (lower) mandible. Teeth are classified as incisors, canines, and molars. In the primary set of teeth, there are two types of incisors, centrals and laterals, and two types of molars, first and second. All primary teeth are replaced with permanent counterparts except for molars, which are replaced by permanent premolars. Among permanent teeth, 16 are found in the maxilla with the other 16 in the mandible. The maxillary teeth are the maxillary central incisor, maxillary lateral incisor, maxillary canine, maxillary first premolar, maxillary second premolar, maxillary first molar, maxillary second molar, and maxillary third molar. The mandibular teeth are the mandibular central incisor, mandibular lateral incisor, mandibular canine, mandibular first premolar, mandibular second premolar, mandibular first molar, mandibular second molar, and mandibular third molar. Third molars are commonly called "wisdom teeth" and may never erupt into the mouth or form at all. If any additional teeth form, for example, fourth and fifth molars, which are rare, they are referred to as supernumerary teeth.[6]

Most teeth have identifiable features that distinguish them from others. There are several different notation systems to refer to a specific tooth. The three most commons systems are the FDI World Dental Federation notation, the universal numbering system, and Palmer notation method. The FDI system is used worldwide, and the universal is used widely in the United States.


Parts

Section of a human molar
Enamel
Main article: Tooth enamel
Enamel is the hardest and most highly mineralized substance of the body and is one of the four major tissues which make up the tooth, along with dentin, cementum, and dental pulp.[7] It is normally visible and must be supported by underlying dentin. Ninety-six percent of enamel consists of mineral, with water and organic material composing the rest.[8] The normal color of enamel varies from light yellow to grayish white. At the edges of teeth where there is no dentin underlying the enamel, the color sometimes has a slightly blue tone. Since enamel is semitranslucent, the color of dentin and any restorative dental material underneath the enamel strongly affects the appearance of a tooth. Enamel varies in thickness over the surface of the tooth and is often thickest at the cusp, up to 2.5 mm, and thinnest at its border, which is seen clinically as the cementoenamel junction (CEJ).[9]

Enamel's primary mineral is hydroxyapatite, which is a crystalline calcium phosphate.[10] The large amount of minerals in enamel accounts not only for its strength but also for its brittleness.[11] Dentin, which is less mineralized and less brittle, compensates for enamel and is necessary as a support.[10] Unlike dentin and bone, enamel does not contain collagen. Instead, it has two unique classes of proteins called amelogenins and enamelins. While the role of these proteins is not fully understood, it is believed that they aid in the development of enamel by serving as framework support among other functions.[12]


Dentin
Main article: Dentin
Dentin is the substance between enamel or cementum and the pulp chamber. It is secreted by the odontoblasts of the dental pulp.[13] The formation of dentin is known as dentinogenesis. The porous, yellow-hued material is made up of 70% inorganic materials, 20% organic materials, and 10% water by weight.[14] Because it is softer than enamel, it decays more rapidly and is subject to severe cavities if not properly treated, but dentin still acts as a protective layer and supports the crown of the tooth.

Dentin is a mineralized connective tissue with an organic matrix of collagenous proteins. Dentin has microscopic channels, called dentinal tubules, which radiate outward through the dentin from the pulp cavity to the exterior cementum or enamel border.[15] The diameter of these tubules range from 2.5 μm near the pulp, to 1.2 μm in the midportion, and 900 nm near the dentino-enamel junction.[16] Although they may have tiny side-branches, the tubules do not intersect with each other. Their length is dictated by the radius of the tooth. The three dimensional configuration of the dentinal tubules is genetically determined.


Cementum
Main article: Cementum
Cementum is a specialized bony substance covering the root of a tooth.[13] It is approximately 45% inorganic material (mainly hydroxyapatite), 33% organic material (mainly collagen) and 22% water. Cementum is excreted by cementoblasts within the root of the tooth and is thickest at the root apex. Its coloration is yellowish and it is softer than either dentin or enamel. The principal role of cementum is to serve as a medium by which the periodontal ligaments can attach to the tooth for stability. At the cementoenamel junction, the cementum is acellular due to its lack of cellular components, and this acellular type covers at least ⅔ of the root.[17] The more permeable form of cementum, cellular cementum, covers about ⅓ of the root apex.[18]


Pulp
Main article: Pulp (tooth)
The dental pulp is the central part of the tooth filled with soft connective tissue.[14] This tissue contains blood vessels and nerves that enter the tooth from a hole at the apex of the root.[19] Along the border between the dentin and the pulp are odontoblasts, which initiate the formation of dentin.[14] Other cells in the pulp include fibroblasts, preodontoblasts, macrophages and T lymphocytes.[20] The pulp is commonly called "the nerve" of the tooth.


Development
Main article: Tooth development

Radiograph of lower right third, second, and first molars in different stages of development.Tooth development is the complex process by which teeth form from embryonic cells, grow, and erupt into the mouth. Although many diverse species have teeth, non-human tooth development is largely the same as in humans. For human teeth to have a healthy oral environment, enamel, dentin, cementum, and the periodontium must all develop during appropriate stages of fetal development. Primary (baby) teeth start to form between the sixth and eighth weeks in utero, and permanent teeth begin to form in the twentieth week in utero.[21] If teeth do not start to develop at or near these times, they will not develop at all.

A significant amount of research has focused on determining the processes that initiate tooth development. It is widely accepted that there is a factor within the tissues of the first branchial arch that is necessary for the development of teeth.[22]

Tooth development is commonly divided into the following stages: the bud stage, the cap, the bell, and finally maturation. The staging of tooth development is an attempt to categorize changes that take place along a continuum; frequently it is difficult to decide what stage should be assigned to a particular developing tooth.[22] This determination is further complicated by the varying appearance of different histologic sections of the same developing tooth, which can appear to be different stages.

The tooth bud (sometimes called the tooth germ) is an aggregation of cells that eventually forms a tooth. It is organized into three parts: the enamel organ, the dental papilla and the dental follicle.[23] The enamel organ is composed of the outer enamel epithelium, inner enamel epithelium, stellate reticulum and stratum intermedium.[23] These cells give rise to ameloblasts, which produce enamel and the reduced enamel epithelium. The growth of cervical loop cells into the deeper tissues forms Hertwig's Epithelial Root Sheath, which determines a tooth's root shape. The dental papilla contains cells that develop into odontoblasts, which are dentin-forming cells.[23] Additionally, the junction between the dental papilla and inner enamel epithelium determines the crown shape of a tooth.[24] The dental follicle gives rise to three important entities: cementoblasts, osteoblasts, and fibroblasts. Cementoblasts form the cementum of a tooth. Osteoblasts give rise to the alveolar bone around the roots of teeth. Fibroblasts develop the periodontal ligaments which connect teeth to the alveolar bone through cementum.[25]


Eruption
Main article: Tooth eruption
Tooth eruption in humans is a process in tooth development in which the teeth enter the mouth and become visible. Current research indicates that the periodontal ligaments play an important role in tooth eruption. Primary teeth erupt into the mouth from around six months until two years of age. These teeth are the only ones in the mouth until a person is about six years old. At that time, the first permanent tooth erupts. This stage, during which a person has a combination of primary and permanent teeth, is known as the mixed stage. The mixed stage lasts until the last primary tooth is lost and the remaining permanent teeth erupt into the mouth.

There have been many theories about the cause of tooth eruption. One theory proposes that the developing root of a tooth pushes it into the mouth.[26] Another, known as the cushioned hammock theory, resulted from microscopic study of teeth, which was thought to show a ligament around the root. It was later discovered that the "ligament" was merely an artifact created in the process of preparing the slide.[27] Currently, the most widely held belief is that the periodontal ligaments provide the main impetus for the process.[28]

The onset of primary tooth loss has been found to correlate strongly with somatic and psychological criteria of school readiness.[29][30]


Supporting structures

Histologic slide of tooth erupting into the mouth.
A: tooth
B: gingiva
C: bone
D: periodontal ligamentsThe periodontium is the supporting structure of a tooth, helping to attach the tooth to surrounding tissues and to allow sensations of touch and pressure.[31] It consists of the cementum, periodontal ligaments, alveolar bone, and gingiva. Of these, cementum is the only one that is a part of a tooth. Periodontal ligaments connect the alveolar bone to the cementum. Alveolar bone surrounds the roots of teeth to provide support and creates what is commonly called an alveolus, or "socket". Lying over the bone is the gingiva or gum, which is readily visible in the mouth.


Periodontal ligaments
The periodontal ligament is a specialized connective tissue that attaches the cementum of a tooth to the alveolar bone. This tissue covers the root of the tooth within the bone. Each ligament has a width of 0.15 - 0.38 mm, but this size decreases over time.[32] The functions of the periodontal ligaments include attachment of the tooth to the bone, support for the tooth, formation and resorption of bone during tooth movement, sensation, and eruption.[33] The cells of the periodontal ligaments include osteoblasts, osteoclasts, fibroblasts, macrophages, cementoblasts, and epithelial cell rests of Malassez.[34] Consisting of mostly Type I and III collagen, the fibers are grouped in bundles and named according to their location. The groups of fibers are named alveolar crest, horizontal, oblique, periapical, and interradicular fibers.[35] The nerve supply generally enters from the bone apical to the tooth and forms a network around the tooth toward the crest of the gingiva.[36] When pressure is exerted on a tooth, such as during chewing or biting, the tooth moves slightly in its socket and puts tension on the periodontal ligaments. The nerve fibers can then send the information to the central nervous system for interpretation.


Alveolar bone
The alveolar bone is the bone of the jaw which forms the alveolus around teeth.[37] Like any other bone in the human body, alveolar bone is modified throughout life. Osteoblasts create bone and osteoclasts destroy it, especially if force is placed on a tooth.[31] As is the case when movement of teeth is attempted through orthodontics, an area of bone under compressive force from a tooth moving toward it has a high osteoclast level, resulting in bone resorption. An area of bone receiving tension from periodontal ligaments attached to a tooth moving away from it has a high number of osteoblasts, resulting in bone formation.


Gingiva
The gingiva ("gums") is the mucosal tissue that overlays the jaws. There are three different types of epithelium associated with the gingiva: gingival, junctional, and sulcular epithelium. These three types form from a mass of epithelial cells known as the epithelial cuff between the tooth and the mouth.[38] The gingival epithelium is not associated directly with tooth attachment and is visible in the mouth. The junctional epithelium, composed of the basal lamina and hemidesmosomes, forms an attachment to the tooth.[33] The sulcular epithelium is nonkeratinized stratified squamous tissue on the gingiva which touches but is not attached to the tooth.[39] This leaves a small potential space between the gingiva and tooth which can collect bacteria, plaque, and calculus.


Tooth decay

Plaque
Main article: Dental plaque
Plaque is a biofilm consisting of large quantities of various bacteria that form on teeth.[40] If not removed regularly, plaque buildup can lead to dental cavities (caries) or periodontal problems such as gingivitis. Given time, plaque can mineralize along the gingiva, forming tartar. The microorganisms that form the biofilm are almost entirely bacteria (mainly streptococcus and anaerobes), with the composition varying by location in the mouth.[41] Streptococcus mutans is the most important bacteria associated with dental caries.

Certain bacteria in the mouth live off the remains of foods, especially sugars and starches. In the absence of oxygen they produce lactic acid, which dissolves the calcium and phosphorus in the enamel.[13][42] This process, known as "demineralisation", leads to tooth destruction. Saliva gradually neutralises the acids which cause the pH of the tooth surface to rise above the critical pH. This causes 'remineralisation', the return of the dissolved minerals to the enamel. If there is sufficient time between the intake of foods then the impact is limited and the teeth can repair themselves. Saliva is unable to penetrate through plaque, however, to neutralize the acid produced by the bacteria.


Caries (Cavities)

Advanced tooth decay on a premolar.Main article: Dental caries
Dental caries, also described as "tooth decay" or "dental cavities", is an infectious disease which damages the structures of teeth.[43] The disease can lead to pain, tooth loss, infection, and, in severe cases, death. Dental caries has a long history, with evidence showing the disease was present in the Bronze, Iron, and Middle ages but also prior to the neolithic period.[44] The largest increases in the prevalence of caries have been associated with diet changes.[44][45] Today, caries remains one of the most common diseases throughout the world. In the United States, dental caries is the most common chronic childhood disease, being at least five times more common than asthma.[46] Countries that have experienced an overall decrease in cases of tooth decay continue to have a disparity in the distribution of the disease.[47] Among children in the United States and Europe, 60-80% of cases of dental caries occur in 20% of the population.[48]

Tooth decay is caused by certain types of acid-producing bacteria which cause the most damage in the presence of fermentable carbohydrates such as sucrose, fructose, and glucose.[49][50] The resulting acidic levels in the mouth affect teeth because a tooth's special mineral content causes it to be sensitive to low pH. Depending on the extent of tooth destruction, various treatments can be used to restore teeth to proper form, function, and aesthetics, but there is no known method to regenerate large amounts of tooth structure. Instead, dental health organizations advocate preventative and prophylactic measures, such as regular oral hygiene and dietary modifications, to avoid dental caries.[51]


Tooth care

Toothbrushes are commonly used to clean teeth.Main article: Oral hygiene
Oral hygiene is the practice of keeping the mouth clean and is a means of preventing dental caries, gingivitis, periodontal disease, bad breath, and other dental disorders. It consists of both professional and personal care. Regular cleanings, usually done by dentists and dental hygienists, remove tartar (mineralized plaque) that may develop even with careful brushing and flossing. Professional cleaning includes tooth scaling, using various instruments or devices to loosen and remove deposits from teeth.

The purpose of cleaning teeth is to remove plaque, which consists mostly of bacteria.[52] Healthcare professionals recommend regular brushing twice a day (in the morning and in the evening, or after meals) in order to prevent formation of plaque and tartar.[51] A toothbrush is able to remove most plaque, excepting areas between teeth. As a result, flossing is also considered a necessity to maintain oral hygiene. When used correctly, dental floss removes plaque from between teeth and at the gum line, where periodontal disease often begins and could develop caries. Electric toothbrushes are not considered more effective than manual brushes for most people.[53] The most important advantage of electric toothbrushes is their ability to aid people with dexterity difficulties, such as those associated with rheumatoid arthritis.

In addition, fluoride therapy is often recommended to protect against dental caries, water fluoridation and fluoride supplements decrease the incidence of dental caries. Fluoride helps prevent dental decay by binding to the hydroxyapatite crystals in enamel.[54] The incorporated fluoride makes enamel more resistant to demineralization and thus more resistant to decay.[55] Topical fluoride, such as a fluoride toothpaste or mouthwash, is also recommended to protect teeth surfaces. Many dentists include application of topical fluoride solutions as part of routine cleanings.


Restorations
After a tooth has been damaged or destroyed, restoration of the missing structure can be achieved with a variety of treatments. Restorations may be created from a variety of materials, including glass ionomer, amalgam, gold, porcelain, and composite.[56] Small restorations placed inside a tooth are referred to as "intracoronal restorations". These restorations may be formed directly in the mouth or may be cast using the lost-wax technique, such as for some inlays and onlays. When larger portions of a tooth are lost, an "extracoronal restoration" may be fabricated, such as a crown or a veneer, to restore the involved tooth.


Picture of a restored premolar.When a tooth is lost, dentures, bridges, or implants may be used as replacements.[57] Dentures are usually the least costly whereas implants are usually the most expensive. Dentures may replace complete arches of the mouth or only a partial number of teeth. Bridges replace smaller spaces of missing teeth and use adjacent teeth to support the restoration. Dental implants may be used to replace a single tooth or a series of teeth. Though implants are the most expensive treatment option, they are often the most desirable restoration because of their aesthetics and function. To improve the function of dentures, implants may be used as support.[58]


Abnormalities
Tooth abnormalities may be categorized according to whether they have environmental or developmental causes.[59] While environmental abnormalities may appear to have an obvious cause, there may not appear to be any known cause for some developmental abnormalities. Environmental forces may affect teeth during development, destroy tooth structure after development, discolor teeth at any stage of development, or alter the course of tooth eruption. Developmental abnormalities most commonly affect the number, size, shape, and structure of teeth.


Digestive

Alteration during tooth development
Tooth abnormalities caused by environmental factors during tooth development have long-lasting effects. Enamel and dentin do not regenerate after they mineralize initially. Enamel hypoplasia is a condition in which the amount of enamel formed is inadequate.[60] This results either in pits and grooves in areas of the tooth or in widespread absence of enamel. Diffuse opacities of enamel does not affect the amount of enamel but changes its appearance. Affected enamel has a different translucency than the rest of the tooth. Demarcated opacities of enamel have sharp boundaries where the translucency decreases and manifest a white, cream, yellow, or brown color. All these may be caused by a systemic event, such as an exanthematous fever.[61] Turner's hypoplasia is a portion of missing or diminished enamel on a permanent tooth usually from a prior infection of a nearby primary tooth. Hypoplasia may also result from antineoplastic therapy. Dental fluorosis is condition which results from ingesting excessive amounts of fluoride and leads to teeth which are spotted, yellow, brown, black or sometimes pitted. Enamel hypoplasia resulting from syphilis is frequently referred to as Hutchinson's teeth, which is considered one part of Hutchinson's triad.[62]


Destruction after development
Tooth destruction from processes other than dental caries is considered a normal physiologic process but may become severe enough to become a pathologic condition. Attrition is the loss of tooth structure by mechanical forces from opposing teeth.[63] Attrition initially affects the enamel and, if unchecked, may proceed to the underlying dentin. Abrasion is the loss of tooth structure by mechanical forces from a foreign element.[64] If this force begins at the cementoenamel junction, then progression of tooth loss can be rapid since enamel is very thin in this region of the tooth. A common source of this type of tooth wear is excessive force when using a toothbrush. Erosion is the loss of tooth structure due to chemical dissolution by acids not of bacterial origin.[65][66] Signs of tooth destruction from erosion is a common characteristic in the mouths of people with bulimia since vomiting results in exposure of the teeth to gastric acids. Another important source of erosive acids are from frequent sucking of lemon juice. Abfraction is the loss of tooth structure from flexural forces. As teeth flex under pressure, the arrangement of teeth touching each other, known as occlusion, causes tension on one side of the tooth and compression on the other side of the tooth. This is believed to cause V-shaped depressions on the side under tension and C-shaped depressions on the side under compression. When tooth destruction occurs at the roots of teeth, the process is referred to as internal resorption, when caused by cells within the pulp, or external resorption, when caused by cells in the periodontal ligament.


Discoloration
Discoloration of teeth may result from bacteria stains, tobacco, tea, coffee, foods with an abundance of chlorophyll, restorative materials, and medications.[67] Stains from bacteria may cause colors varying from green to black to orange. Green stains also result from foods with chlorophyll or excessive exposure to copper or nickel. Amalgam, a common dental restorative material, may turn adjacent areas of teeth black or gray. Chlorhexidine, a mouthwash, is associated with causing yellow-brown stains near the gingiva on teeth. Systemic disorders also can cause tooth discoloration. Congenital erythropoietic porphyria causes porphyrins to be deposited in teeth, causing a red-brown coloration. Blue discoloration may occur with alkaptonuria and rarely with Parkinson's disease. Erythroblastosis fetalis and biliary atresia are diseases which may cause teeth to appear green from the deposition of biliverdin. Also, trauma may change a tooth to a pink, yellow, or dark gray color. Pink and red discolorations are also associated in patients with lepromatous leprosy. Some medications, such as tetracycline antibiotics, may become incorporated into the structure of a tooth, causing intrinsic staining of the teeth.


Alteration of eruption
Tooth eruption may be altered by some environmental factors. When eruption is prematurely stopped, the tooth is said to be impacted. The most common cause of tooth impaction is lack of space in the mouth for the tooth.[68] Other causes may be tumors, cysts, trauma, and thickened bone or soft tissue. Ankylosis of a tooth occurs when the tooth has already erupted into the mouth but the cementum or dentin has fused with the alveolar bone. This may cause a person to retain their primary tooth instead of having it replaced by a permanent one.

A technique for altering the natural progression of eruption is employed by orthodontists who wish to delay or speed up the eruption of certain teeth for reasons of space maintenance or otherwise preventing crowding and/or spacing. If a primary tooth is extracted prior to the root of its succeeding permanent tooth reaching ⅓ of its total growth, the eruption of the permanent tooth will be delayed. Conversely, if the roots of the permanent tooth are more than ⅔ complete, the eruption of the permanent tooth will be accelerated. Between ⅓ and ⅔, it is unknown exactly what will occur to the speed of eruption.


Developmental

Abnormality in number
Anodontia is the total lack of tooth development. Hyperdontia is the presence of a higher-than-normal number of teeth, where as Hypodontia is the lack of some teeth. Usually, hypodontia refers to the lack of development of one or more teeth, and oligodontia may be used to describe the absence of 6 or more teeth. Some systemic disorders which may result in hyperdontia include Apert syndrome, Cleidocranial dysostosis, Crouzon syndrome, Ehlers-Danlos syndrome, Gardner syndrome, and Sturge-Weber syndrome.[69] Some systemic disorders which may result in hypodontia include Crouzon syndrome, Ectodermal dysplasia, Ehlers-Danlos syndrome, and Gorlin syndrome.[70]


Abnormality in size
Microdontia is a condition where teeth are smaller than the usual size, and macrodontia is where teeth are larger than the usual size. Microdontia of a single tooth is more likely to occur in a maxillary lateral incisor. The second most likely tooth to have microdontia are third molars. Macrodontia of all the teeth is known to occur in pituitary gigantism and pineal hyperplasia. It may also occur on one side of the face in cases of hemifacial hyperplasia.


Abnormality in shape

The fusion of two deciduous teeth.Gemination occurs when a developing tooth incompletely splits into the formation of two teeth. Fusion is the union of two adjacent teeth during development. Concrescence is the fusion of two separate teeth only in their cementum. Accessory cusps are additional cusps on a tooth and may manifest as a Talon cusp, Cusp of Carabelli, or Dens evaginatus. Dens invaginatus, also called Dens in dente, is a deep invagination in a tooth causing the appearance of a tooth within a tooth. Ectopic enamel is enamel found in an unusual location, such as the root of a tooth. Taurodontism is a condition where the body of the tooth and pulp chamber is enlarged, and is associated with Klinefelter syndrome, Tricho-dento-osseous syndrome, Triple X syndrome, and XYY syndrome.[71] Hypercementosis is excessive formation of cementum, which may result from trauma, inflammation, acromegaly, rheumatic fever, and Paget's disease of bone.[71] A dilaceration is a bend in the root which may have been caused by trauma to the tooth during formation. Supernumerary roots is the presence of a greater number of roots on a tooth than expected.


Abnormality in structure
Amelogenesis imperfecta is a condition in which enamel does not form properly or at all.[72] Dentinogenesis imperfecta is a condition in which dentin does not form properly and is sometimes associated with osteogenesis imperfecta.[73] Dentin dysplasia is a disorder in which the roots and pulp of teeth may be affected. Regional odontodysplasia is a disorder affecting enamel, dentin, and pulp and causes the teeth to appear "ghostly" on radiographs.[74]


Non-human animals

Section through the ivory tusk of a mammothMain article: Tooth (animal)

Teeth of Great White SharkTeeth vary greatly among animals. Some animals, such as turtles and tortoises, are toothless. Others, such as sharks, may go through many teeth in their lifetime. Walrus tusks are canine teeth that grow continuously throughout life.[75] Dog teeth are less likely than human teeth to form dental caries because of the very high pH of dog saliva, which prevents enamel from demineralizing.[76] Unlike humans whose ameloblasts die after tooth development, rodents continually produce enamel and must wear down their teeth by gnawing on various materials.[77] Horse teeth include twelve premolars, twelve molars, and twelve incisors. Whale teeth have some similarities and differences from human teeth. Like human teeth, whale teeth have polyp-like protrusions located on the root surface of the tooth. These polyps are made of cementum in both species, but in human to protrusions are located on the outside of the root, while in whales the nodule is located on the inside of the pulp chamber. As mentioned, the roots of human teeth are made of cementum on the outer surface. Whale teeth have cementum on the entire surface of the tooth with a very small layer of enamel at its tip. This small enamel layer is only seen in older whales where the cementum has been worn away to show the underlying enamel.[78] The structure of horse teeth is different from human teeth as the enamel and dentin layers are intertwined.[79]


See also
Look up tooth in Wiktionary, the free dictionary.Wikimedia Commons has media related to:
teethBarodontalgia
Braces
Dental auxiliary
Dental assistant
Dental hygienist
Dental technician
Dental notation
Dental tourism
Dentistry
Dragon's teeth (mythology)
Head and neck anatomy
Language
Tooth Fairy
Tooth painting
Vocal tract

Lists
List of basic dentistry topics
List of oral health and dental topics

References
^ Tummers M and Thesleff I. Root or crown: a developmental choice orchestrated by the differential regulation of the epithelial stem cell niche in the tooth of two rodent species. Development (2003). 130(6):1049-57.
^ AM Hunt. A description of the molar teeth and investing tissues of normal guinea pigs. J Dent Res. (1959) 38(2):216-31.
^ Ash, Major M. and Stanley J. Nelson, 2003. Wheeler’s Dental Anatomy, Physiology, and Occlusion. 8th edition. Page 6. ISBN 0-7216-9382-2.
^ Cate, A.R. Ten. Oral Histology: development, structure, and function. 5th ed. 1998. Page 3. ISBN 0-8151-2952-1.
^ Ash, Major M. and Stanley J. Nelson, 2003. Wheeler’s Dental Anatomy, Physiology, and Occlusion. 8th edition. Page 9. ISBN 0-7216-9382-2.
^ Kokten G, Balcioglu H, Buyukertan M. Supernumerary Fourth and Fifth Molars: A Report of Two Cases. Journal of Contemporary Dental Practice, 2003 November; (4)4:067-076. Page accessed February 10, 2007.
^ Ross, Michael H., Gordon I. Kaye, and Wojciech Pawlina, "Histology: a Text and Atlas", 4th ed. (Baltimore: Lippincott Williams & Wilkins, 2002), p. 441.
^ Cate, A. R. Ten, "Oral Histology: Development, Structure, and Function", 5th ed. (Saint Louis: Mosby-Year Book, 1998), p. 1.
^ Cate, A. R. Ten, "Oral Histology: Development, Structure, and Function", 5th ed. (Saint Louis: Mosby-Year Book, 1998), p. 219.
^ a b Johnson, Clarke. "Biology of the Human Dentition," 1998. Page accessed on January 24, 2007.
^ Cate, A. R. Ten, "Oral Histology: Development, Structure, and Function", 5th ed. (Saint Louis: Mosby-Year Book, 1998), p. 219.
^ Cate, A. R. Ten, "Oral Histology: Development, Structure, and Function", 5th ed. (Saint Louis: Mosby-Year Book, 1998), p. 198.
^ a b c Ross, Michael H., Gordon I. Kaye, and Wojciech Pawlina, 2003. Histology: a text and atlas. 4th edition. Page 448. ISBN 0-683-30242-6.
^ a b c Cate, A.R. Ten. Oral Histology: development, structure, and function. 5th ed. 1998. Page 150. ISBN 0-8151-2952-1.
^ Ross, Michael H., Gordon I. Kaye, and Wojciech Pawlina, 2003. Histology: a text and atlas. 4th edition. Page 450. ISBN 0-683-30242-6.
^ Cate, A.R. Ten. Oral Histology: development, structure, and function. 5th ed. 1998. Page 152. ISBN 0-8151-2952-1.
^ Cate, A.R. Ten. Oral Histology: development, structure, and function. 5th ed. 1998. Page 236. ISBN 0-8151-2952-1.
^ Cate, A.R. Ten. Oral Histology: development, structure, and function. 5th ed. 1998. Page 241. ISBN 0-8151-2952-1.
^ Ross, Michael H., Gordon I. Kaye, and Wojciech Pawlina, 2003. Histology: a text and atlas. 4th edition. Page 451. ISBN 0-683-30242-6.
^ Walton, Richard E. and Mahmoud Torabinejad. Principles and Practice of Endodontics. 3rd ed. 2002. Pages 11-13. ISBN 0-7216-9160-9.
^ A. R. Ten Cate, Oral Histology: Development, Structure, and Function, 5th ed. (Saint Louis: Mosby-Year Book, 1998), p. 95. ISBN 0-8151-2952-1.
^ a b A. R. Ten Cate, Oral Histology: Development, Structure, and Function, 5th ed. (Saint Louis: Mosby-Year Book, 1998), p. 81. ISBN 0-8151-2952-1.
^ a b c *University of Texas Medical Branch. "Lab Exercises: Tooth development." Page found here.
^ A. R. Ten Cate, Oral Histology: Development, Structure, and Function, 5th ed. (Saint Louis: Mosby-Year Book, 1998), pp. 86 and 102. ISBN 0-8151-2952-1.
^ *Ross, Michael H., Gordon I. Kaye, and Wojciech Pawlina. Histology: a text and atlas. 4th edition, p. 453. 2003. ISBN 0-683-30242-6.
^ Harris, Edward F. Craniofacial Growth and Development. In the section entitled "Tooth Eruption." 2002. pp. 1-3.
^ Harris, Edward F. Craniofacial Growth and Development. In the section entitled "Tooth Eruption." 2002. p. 3.
^ Harris, Edward F. Craniofacial Growth and Development. In the section entitled "Tooth Eruption." 2002. p. 5.
^ Ernst-Michael Kranich, "Anthropologie", in F. Bohnsack and E-M Kranich (eds.), Erziehungswissenschaft und Waldorfpädagogik, Reihe Pädagogik Beltz, Weinheim 1990, p. 126, citing F. Ilg and L. Ames (Gesell Institute), School Readiness, p. 236ff
^ "...the loss of the first deciduous tooth can serve as a definite indicator of a male child's readiness for reading and schoolwork", Diss. Cornell U. Silvestro, John R. 1977. “Second Dentition and School Readiness.” New York State Dental Journal 43 (March): 155—8
^ a b Ross, Michael H., Gordon I. Kaye, and Wojciech Pawlina, 2003. Histology: a text and atlas. 4th edition. Page 452. ISBN 0-683-30242-6.
^ Cate, A.R. Ten. Oral Histology: development, structure, and function. 5th ed. 1998. Page 256. ISBN 0-8151-2952-1.
^ a b Ross, Michael H., Gordon I. Kaye, and Wojciech Pawlina, 2003. Histology: a text and atlas. 4th edition. Page 453. ISBN 0-683-30242-6.
^ Cate, A.R. Ten. Oral Histology: development, structure, and function. 5th ed. 1998. Page 260. ISBN 0-8151-2952-1.
^ Listgarten, Max A. "Histology of the Periodontium: Principal fibers of the periodontal ligament," hosted on the University of Pennsylvania and Temple University website. Created May 8, 1999, revised 01/16/2007. Page accessed April 2, 2007.
^ Cate, A.R. Ten. Oral Histology: development, structure, and function. 5th ed. 1998. Page 270. ISBN 0-8151-2952-1.
^ Cate, A.R. Ten. Oral Histology: development, structure, and function. 5th ed. 1998. Page 274. ISBN 0-8151-2952-1.
^ Cate, A.R. Ten. Oral Histology: development, structure, and function. 5th ed. 1998. Pages 247 and 248. ISBN 0-8151-2952-1.
^ Cate, A.R. Ten. Oral Histology: development, structure, and function. 5th ed. 1998. Page 280. ISBN 0-8151-2952-1.
^ "Oral Health Topics: Plaque", hosted on the American Dental Association website. Page accessed April 2, 2007.
^ Introduction to dental plaque, hosted on the http://www.dentistry.leeds.ac.uk Leeds Dental Institute] website. Page accessed April 2, 2007.
^ Ophardt, Charles E. "Sugar and tooth decay", hosted on the Elmhurst College website. Page accessed April 2, 2007.
^ Dental Cavities, MedlinePlus Medical Encyclopedia, page accessed August 14, 2006.
^ a b Epidemiology of Dental Disease, hosted on the University of Illinois at Chicago website. Page accessed January 9, 2007.
^ Suddick, Richard P. and Norman O. Harris. "Historical Perspectives of Oral Biology: A Series". Critical Reviews in Oral Biology and Medicine, 1(2), pages 135-151, 1990.
^ Healthy People: 2010. Html version hosted on Healthy People.gov website. Page accessed August 13, 2006.
^ "Dental caries", from the Disease Control Priorities Project. Page accessed August 15, 2006.
^ Touger-Decker, Riva and Cor van Loveren. Sugars and dental caries, The American Journal of Clinical Nutrition, 78, 2003, pages 881S–892S.
^ Hardie, J.M. (1982). The microbiology of dental caries. Dental Update, 9, 199-208.
^ Holloway, P.J. (1983). The role of sugar in the etiology of dental caries. Journal of Dentistry, 11, 189-213.
^ a b Oral Health Topics: Cleaning your teeth and gums. Hosted on the American Dental Association website. Page accessed August 15, 2006.
^ Introduction to Dental Plaque. Hosted on the Leeds Dental Institute Website, page accessed August 14, 2006.
^ Thumbs down for electric toothbrush, hosted on the BBC News website, posted January 21, 2003. Page accessed January 23, 2007.
^ Cate, A.R. Ten. "Oral Histology: development, structure, and function." 5th edition, 1998, p. 223. ISBN 0-8151-2952-1.
^ Ross, Michael H., Gordon I. Kaye, and Wojciech Pawlina, 2003. "Histology: a text and atlas." 4th edition, p. 453. ISBN 0-683-30242-6.
^ "Oral Health Topics: Dental Filling Options", hosted on the ADA website, page accessed May 8, 2007.
^ "Prosthodontic Procedures", hosted on the The American College of Prosthodontists website. Page accessed May 16, 2007.
^ "Dental Implants", hosted on the American Association of Oral and Maxillofacial Surgeons website. Page accessed May 16, 2007.
^ Neville, B.W., D. Damm, C. Allen, J. Bouquot. Oral & Maxillofacial Pathology. Second edition. 2002. Page 50. ISBN 0-7216-9003-3.
^ Ash, Major M. and Stanley J. Nelson, 2003. "Wheeler’s Dental Anatomy, Physiology, and Occlusion," 8th edition, p. 31.
^ Neville, B.W., D. Damm, C. Allen, J. Bouquot. Oral & Maxillofacial Pathology. Second edition. 2002. Page 51. ISBN 0-7216-9003-3.
^ Syphilis: Complications, hosted on the Mayo Clinic website. Page accessed January 21, 2007.
^ "Loss of Tooth Structure", hosted on the American Dental Hygiene Association website. Page accessed April 25, 2007.
^ "Abnormalities of Teeth", hosted on the University of Missouri-Kansas City School of Dentistry website. Page accessed April 25, 2007.
^ Yip, Kevin H-K., Roger J. Smales, John A. Kaidonis. "The diagnosis and control of extrinsic acid erosion of tooth substance", hosted on the Academy of General Dentistry website. Page accessed April 25, 2007.
^ Gandara B.K., Truelove E.L. "Diagnosis and Management of Dental Erosion", online version hosted on the The Journal of Contemporary Dental Practice website. Journal of Contemporary Dental Practice, 1999 October; (1)1, pages 16-23. Page accessed April 25, 2007.
^ Neville, B.W., D. Damm, C. Allen, J. Bouquot. Oral & Maxillofacial Pathology. Second edition. 2002. Page 63. ISBN 0-7216-9003-3.
^ Neville, B.W., D. Damm, C. Allen, J. Bouquot. Oral & Maxillofacial Pathology. Second edition. 2002. Page 66. ISBN 0-7216-9003-3.
^ Neville, B.W., D. Damm, C. Allen, J. Bouquot. Oral & Maxillofacial Pathology. Second edition. 2002. Page 70. ISBN 0-7216-9003-3.
^ Neville, B.W., D. Damm, C. Allen, J. Bouquot. Oral & Maxillofacial Pathology. Second edition. 2002. Page 69. ISBN 0-7216-9003-3.
^ a b Neville, B.W., D. Damm, C. Allen, J. Bouquot. Oral & Maxillofacial Pathology. Second edition. 2002. Page 85. ISBN 0-7216-9003-3.
^ Amelogenesis imperfecta, hosted on the Genetics Home Reference website, a service of the U.S. National Library of Medicine. Page accessed April 1, 2007.
^ Dentinogenesis imperfecta, hosted on the Genetics Home Reference website, a service of the U.S. National Library of Medicine. Page accessed April 1, 2007.
^ Cho, Shiu-yin, Conservative Management of Regional Odontodysplasia: Case Report, hosted on the Canadian Dental Association website. Issue 72(8): pp. 735–8. Page accessed April 1, 2007.
^ The Permanent Canine Teeth, hosted on the University of Illinois at Chicago website. Page accessed February 5, 2007.
^ Chris C. Pinney, The Illustrated Veterinary Guide for Dogs, Cats, Birds, and Exotic Pets (Blue Ridge Summit, PA: TAB Books, 1992), p. 187.
^ Caceci, Thomas. Veterinary Histology with subtitle "Digestive System: Oral Cavity" found here.
^ "Common Characteristics of Whale Teeth" here
^ Encarta article found here and Randall-Bowman, whose link can be found here

External links
An article on the use of human tooth used as a neolithic pendant
An overview of dental anatomy
"Broke a tooth? Grow it back", University of Alberta
Straight Teeth
Tooth eruption chart

Bidvertiser